Perusahaan di Indonesia menunjukkan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang agresif.
Namun, Amazon Web Services (AWS) mencatat bahwa banyak organisasi masih belum memiliki fondasi tata kelola AI yang kuat.
>>> Harga PS5 Agustus 2026: Kenaikan Masih Berlaku, Belum Ada Diskon
Nandini Ramani, Vice President Governance and Compliance AWS, mengungkapkan bahwa sekitar 40% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI.
Akan tetapi, hanya 24% yang memiliki strategi AI formal dan sekitar 21% yang menerapkan tata kelola data.
Kondisi ini menjadi tantangan karena AI bukan lagi sekadar proyek teknologi, melainkan telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis perusahaan.
Nandini menekankan, tanpa strategi, tata kelola data, dan keamanan yang memadai sejak awal, adopsi AI justru dapat mempercepat masalah yang sudah ada.
>>> Pemain Bintang Piala Dunia yang Langsung Pindah Klub
Ia menyoroti bahwa banyak organisasi berlomba mengadopsi AI dengan cepat. Namun, tanpa mekanisme pengaman yang jelas, kecepatan tersebut dapat meningkatkan risiko keamanan.
Menurut Nandini, perusahaan sebaiknya membangun observability, tata kelola data, dan mekanisme keamanan sejak awal pengembangan aplikasi AI, bukan setelahnya.
Meskipun mengingatkan pentingnya tata kelola, Nandini memuji keberanian perusahaan Indonesia dalam mengadopsi teknologi AI. Ia menilai perusahaan di Indonesia sangat progresif dibandingkan banyak negara lain.
Ia terkesan melihat keberanian perusahaan Indonesia dalam membangun ulang sistem mereka menggunakan AI, bahkan di sektor yang sangat teregulasi seperti perbankan dan kesehatan.
>>> Daftar Wakil Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2026
Langkah selanjutnya yang krusial adalah memastikan setiap implementasi AI memiliki strategi bisnis, tata kelola data, dan keamanan yang kuat agar manfaatnya berkelanjutan.

