Proyek di Batam dikembangkan bersama perusahaan infrastruktur digital yang berbasis di Singapura, DayOne. Kapasitas awal ditargetkan mulai tersedia pada kuartal pertama 2027.
Firmus memperkirakan kerja sama tersebut berpotensi menghasilkan kontrak penggunaan kapasitas atau committed offtake senilai USD 25 miliar hingga USD 30 miliar dalam enam tahun pertama.
Masuknya tambahan modal memperkuat rencana Firmus memperluas jaringan infrastruktur AI di Asia Pasifik. Indonesia menjadi salah satu pasar pertama yang dibidik di luar Australia.
Lokasi Batam dinilai strategis karena berdekatan dengan Singapura, salah satu pusat data terbesar di Asia Tenggara, sekaligus memiliki akses ke jaringan kabel bawah laut dan kawasan industri.
Proyek Firmus juga menambah panjang daftar investasi infrastruktur AI berskala besar yang masuk ke Indonesia.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah perusahaan global mulai mengumumkan pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi AI di Tanah Air.
Kebutuhan GPU untuk melatih dan menjalankan model AI diperkirakan terus meningkat seiring perusahaan, startup, dan pemerintah semakin banyak mengadopsi teknologi tersebut.
Meski Nvidia ikut menanamkan modal ke Firmus, fasilitas Batam bukan merupakan pusat data milik Nvidia.
>>> Usai Bobol Gawang PSV, Begini Statistik Ole Romeny
Firmus menjadi pengembang dan operator infrastruktur tersebut dengan memanfaatkan teknologi serta akselerator AI Nvidia.
