Gerhana Matahari total pada 12 Agustus 2026 bukan sekadar fenomena ketika Bulan menutupi Matahari.
Peristiwa ini akan membuka kesempatan langka untuk menyaksikan bentuk korona Matahari yang unik dan tidak akan pernah muncul persis sama lagi.
>>> Maldini Ungkap Alasan Mundur dari Dirtek FIGC
Setiap gerhana Matahari total menghadirkan bentuk korona yang berbeda.
Ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari, atmosfer terluar Matahari tersebut akan terlihat sebagai struktur putih yang menjulur dari balik siluet gelap Bulan.
Korona, yang berarti "mahkota" dalam bahasa Latin, terus berubah mengikuti aktivitas magnetik Matahari.
Oleh sebab itu, penampakannya saat gerhana 12 Agustus akan menjadi gambaran kondisi Matahari pada satu momen tertentu dalam Siklus Matahari 25.
Dalam kondisi normal, korona tidak terlihat dengan mata telanjang karena cahayanya kalah terang dibandingkan fotosfer atau permukaan Matahari.
Saat terjadi gerhana total, fotosfer tertutup sehingga korona yang biasanya tersembunyi dapat terlihat.
Selain struktur putih yang menjulur jauh dari Matahari, pengamat juga berpeluang melihat prominensa berupa lingkaran atau tonjolan berwarna merah muda di sekitar tepi Bulan.
Ukuran korona bahkan dapat terlihat beberapa kali lebih besar dibandingkan diameter Matahari.
Bentuk korona sangat dipengaruhi medan magnet Matahari. Saat aktivitas Matahari tinggi, korona dapat terlihat lebih kompleks dengan struktur yang menjulur ke berbagai arah.
Sebaliknya, ketika aktivitas rendah, bentuknya cenderung lebih seragam dan simetris.
>>> Pemain Coritiba Jeblos ke Lubang Saat Rayakan Gol yang Dianulir
Gerhana 12 Agustus 2026 sendiri berlangsung ketika aktivitas Matahari mulai menurun setelah Siklus Matahari 25 mencapai puncaknya pada Oktober 2024.
Namun, kondisi Matahari masih cukup aktif sehingga korona diperkirakan tidak akan setenang saat periode minimum maupun sekompleks ketika mendekati puncak aktivitas.

