Korona pada gerhana 2026 kemungkinan masih memperlihatkan aliran kuat yang menjulur jauh ke luar angkasa, tetapi dengan bentuk yang lebih tidak simetris.
Meski demikian, bentuk pastinya belum dapat dipastikan.
Penampakan korona akan bergantung pada aktivitas magnetik Matahari beberapa hari sebelum gerhana, posisi kelompok bintik Matahari, keberadaan prominensa, hingga kemungkinan terjadinya erupsi.
Ryan French, fisikawan Matahari dan komunikator sains di Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP), mengatakan kondisi tersebut membuat penampakan korona sulit diprediksi secara pasti.
"Apa yang sebenarnya kita lihat selama gerhana Agustus akan bergantung pada seperti apa aktivitas Matahari pada pekan tersebut," kata French.
Gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 akan melintasi sejumlah wilayah, termasuk Greenland, Islandia, Spanyol, dan Kepulauan Balearic.
Selama beberapa menit totalitas, pengamat di jalur tersebut dapat melihat korona Matahari sebelum kembali menghilang ketika cahaya Matahari muncul.
>>> Benteng Misterius di Sahara Simpan Jejak Peradaban yang Hilang
Begitu totalitas berakhir, bentuk korona yang terlihat pada momen tersebut pun akan menjadi bagian dari konfigurasi Matahari yang tidak akan pernah terulang persis sama.
