⌂ Beranda News AI Sebabkan Gagal Panen 10 Hektar Wijen di China Akibat Saran Keliru
News

AI Sebabkan Gagal Panen 10 Hektar Wijen di China Akibat Saran Keliru

AI Sebabkan Gagal Panen 10 Hektar Wijen di China Akibat Saran Keliru
AI Sebabkan Gagal Panen 10 Hektar Wijen di China Akibat Saran Keliru
A A Ukuran Teks16px

Seorang petani di Chuzhou, China, harus menelan kerugian besar setelah mengikuti saran pengendalian gulma dan hama dari sebuah aplikasi chatbot AI.

Akibat terlalu percaya pada kecerdasan buatan, lahan pembibitan wijen seluas 10 hektar miliknya mati total.

>>> Amanda Mitsuri: MacBook Pro Bekal Awal Sukses Bisnis Massicot

Petani berusia 67 tahun itu diinstruksikan oleh AI untuk menggunakan campuran bahan kimia yang terdiri dari high-efficiency flupyrimethalin, flusulfasulfaether, thiamethoxazine, dan methyl salt.

Ia mengikuti instruksi tersebut tanpa memeriksa kembali tingkat keamanannya dan menyemprotkannya ke seluruh ladang.

Keesokan paginya, ia menyadari kesalahan fatalnya saat menemukan seluruh bibit wijennya sudah mati terbakar bahan kimia.

Kesalahan Penggunaan Herbisida

Setelah kembali mengakses chatbot AI, terungkap bahwa biang kerok insiden tersebut adalah penggunaan flusulfasulfaether.

Bahan kimia ini merupakan herbisida yang dirancang untuk membunuh gulma berdaun lebar di ladang kedelai.

Masalahnya, tanaman wijen secara botani juga diklasifikasikan sebagai tanaman berdaun lebar, sehingga ikut terbasmi oleh bahan kimia tersebut.

>>> Rio Ferdinand: Arsenal Takkan Juara Liga Inggris Tanpa Cedera Rodri

AI menjelaskan bahwa flusulfasulfaether seharusnya hanya disemprotkan secara spesifik pada area gulma, bukan disebar luaskan ke seluruh ladang.

Petani tersebut mengaku marah karena AI tidak memberikan peringatan awal tentang bahaya saran tersebut.

Ia sebenarnya sempat meragukan aplikasi AI, namun berubah pikiran setelah beberapa saran sebelumnya terbukti membantu.

Kasus ini menyoroti bahaya 'halusinasi' kecerdasan buatan, di mana sistem chatbot dapat membuat kesalahan atau salah memahami konteks dunia nyata.

AI dapat mengandalkan potongan informasi yang tidak lengkap saat merumuskan jawaban.

Insiden serupa pernah terjadi tahun lalu, di mana seorang pria menderita keracunan bromida kronis setelah ChatGPT menyarankan sodium bromide sebagai pengganti garam dapur.

>>> Barcelona Krisis Penyerang? Ferran Torres Tak Ikut Latihan, Menuju PSG

Zat tersebut beracun jika dikonsumsi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM