Ilmu pengetahuan sebelumnya meyakini Bumi akan hancur saat Matahari mencapai akhir hidupnya.
Namun, studi terbaru menunjukkan kemungkinan berbeda, di mana Bumi mungkin tidak langsung musnah meskipun tidak lagi layak huni.
>>> Luis Enrique Ungkap Kendala Persiapan PSG Hadapi Aston Villa
Penelitian yang mengutip Phys.
org mengungkap bahwa nasib Bumi bergantung pada keseimbangan antara gaya gravitasi Matahari dan kehilangan massa bintang ketika memasuki fase raksasa merah.
Sekitar 5 miliar tahun mendatang, Matahari akan mengembang menjadi raksasa merah setelah kehabisan bahan bakar hidrogen. Ukurannya bisa membesar hingga ratusan kali lipat.
Selama proses ini, Matahari kehilangan massa sehingga tarikan gravitasinya melemah, sementara gaya pasang surut berusaha menarik Bumi lebih dekat.
Jika kehilangan massa lebih dominan, orbit Bumi bisa terdorong menjauh.
>>> Roberto Martinez Jadi Kandidat Kuat Pelatih Timnas Belanda
Model terbaru menunjukkan Bumi berpotensi lolos dari 'ditelan' Matahari, sesuatu yang sebelumnya dianggap hampir pasti terjadi.
Namun, bahkan jika selamat secara fisik, kondisi di Bumi sudah lama tidak mendukung kehidupan. Peningkatan energi Matahari akan membuat suhu Bumi terus naik.
Para ilmuwan memperkirakan dalam sekitar 1 miliar tahun, lautan akan menguap dan efek rumah kaca tak terkendali akan membuat planet ini mirip Venus.
Artinya, kehidupan di Bumi kemungkinan besar sudah punah jauh sebelum fase akhir Matahari terjadi. Penelitian ini memperbarui pemahaman tentang evolusi bintang dan nasib planet.
Meski terdengar seperti kabar baik, ilmuwan menegaskan bahwa 'keselamatan' Bumi hanya bersifat fisik, bukan biologis.
>>> AI Sebabkan Gagal Panen 10 Hektar Wijen di China Akibat Saran Keliru
Bumi mungkin tetap ada saat Matahari mati, tetapi bukan lagi sebagai planet yang bisa dihuni.
