Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah mengembangkan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengatasi rendahnya cakupan pemeriksaan kanker serviks di Indonesia.
Inisiatif ini berangkat dari identifikasi masalah nyata yang dihadapi masyarakat.
>>> Mengapa HP 5G Tidak Menampilkan Jaringan 5G? Ini Alasannya
Rektor UGM, Prof Ova Emilia, menjelaskan bahwa pengembangan riset AI di universitas tidak semata-mata didorong oleh ketersediaan teknologi, melainkan dimulai dari persoalan yang ada di masyarakat.
Salah satu kendala utama dalam skrining kanker serviks adalah keengganan masyarakat untuk memeriksakan diri karena rasa malu. Data menunjukkan cakupan pemeriksaan di Indonesia masih di bawah 3 persen.
Menyikapi hal ini, muncul gagasan untuk mengembangkan metode skrining yang lebih mudah diakses dan tidak menimbulkan rasa malu bagi pasien.
>>> Transformasi Birokrasi Kemenpora Sukses, Raih Opini WTP dari BPK
Pendekatan yang dipertimbangkan adalah pengambilan sampel yang lebih praktis.
Salah satu terobosan yang digagas adalah penggunaan sampel urine untuk pemeriksaan, yang dianalogikan dengan proses tes kehamilan. Metode ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif.
UGM mendorong para peneliti dan mahasiswa untuk menemukan solusi berbasis teknologi terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Universitas menyediakan payung penelitian untuk mendukung inisiatif tersebut.
>>> Leicester City: Dari Kisah Dongeng Juara Liga Inggris ke Jurang Degradasi dan Dijual
Prioritas riset disesuaikan dengan kebutuhan dan kebijakan pemerintah, serta tantangan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk dalam bidang kesehatan.
