Teknologi kecerdasan buatan sering kali digadang-gadang mampu memangkas jam kerja dan meningkatkan produktivitas harian pegawai.
Namun, beberapa karyawan di perusahaan pengembang teknologi justru merasakan dampak sebaliknya dalam rutinitas mereka.
>>> Daftar Game PS4 dan PS5 yang Sedang Diskon Besar-besaran
Pegawai di OpenAI dan Anthropic melaporkan bahwa mereka bisa bekerja hingga melampaui 90 jam dalam sepekan saat fase pengembangan.
Seorang mantan karyawan OpenAI mengaku pernah bekerja setidaknya 70 jam setiap minggu sebelum memutuskan keluar tahun lalu.
Karyawan tersebut bahkan harus masuk kerja pada hari Sabtu atau Minggu demi menyelesaikan tugas yang tertunda.
Kondisi ini bertolak belakang dengan ramalan awal bahwa AI akan mempermudah penerapan sistem kerja empat hari dalam seminggu.
>>> Krisis Lini Depan, Arsenal Didesak Datangkan Ujung Tombak Anyar
OpenAI sendiri belum pernah mencoba kebijakan pengurangan hari kerja tersebut selama sang mantan pegawai bekerja di sana.
Para pekerja justru dihadapkan pada rapat krisis rutin, kewajiban akhir pekan, serta evaluasi kinerja yang sangat ketat.
CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa teknologi tidak akan bisa mewujudkan sistem kerja singkat di era masa depan.
Peneliti dari University of California, Berkeley menyebutkan bahwa AI menambah beban karena karyawan harus memeriksa hasil kerja mesin.
>>> Jonatan Christie Sebut Persaingan Tunggal Putra Terbuka Lebar di Kejuaraan Dunia 2026
Pakar inovasi MIT menambahkan bahwa peningkatan efisiensi biasanya langsung diisi dengan tugas baru dan ekspektasi lebih tinggi.

