Taiwan mengungkap serangan cyber yang memanfaatkan kecerdasan buatan terhadap sejumlah lembaga pemerintah pada Juli 2026.
Serangan tersebut berasal dari luar negeri dan menggunakan kombinasi operasi manual serta agen AI.
>>> Arsenal Petik Buah Manis Setelah Enam Tahun Bersama Mikel Arteta
Ministry of Digital Affairs Taiwan menyebut unit pemantauan keamanan cyber mendeteksi anomali tersebut mulai 20 Juli.
Institut Keamanan Cyber Nasional Taiwan kemudian mengeluarkan sejumlah peringatan selama penyelidikan berlangsung.
Penggunaan Agen AI dalam Serangan
Yang membedakan insiden ini adalah penggunaan teknologi agen AI.
Teknologi tersebut memungkinkan sejumlah tugas yang biasanya dikerjakan secara manual dikerjakan dengan bantuan sistem AI.
Pendekatan hibrida ini menggabungkan operasi manual dengan agen AI seperti OpenClaw.
Perusahaan keamanan cyber asal Israel, Dream, melaporkan kampanye peretasan berbasis AI terhadap pemerintahan di Asia.
>>> Harry Maguire Berharap Marcus Rashford Tetap Bertahan di Manchester United
Sistem tersebut berhasil membobol setidaknya 85 akun pengguna pemerintah dan mengambil lebih dari 2.500 data personel.
Serangan itu kemudian meluas dengan menyasar badan keselamatan nuklir Taiwan serta tujuh perusahaan energi.
Respons dan Penanganan Pemerintah
Taiwan tidak secara resmi menyebut negara atau kelompok tertentu sebagai dalang di balik serangan tersebut.
Hasil penyelidikan hanya menunjukkan karakteristik sumber yang berasal dari luar negeri.
Lembaga yang menjadi sasaran dilaporkan berhasil menangani insiden tersebut secara bertahap.
>>> Jadwal Playoffs MPL ID S18 Belum Diumumkan, Surabaya Dipilih Jadi Lokasi Pertandingan
Pemerintah Taiwan kemudian memperkuat pemantauan sistem dan membuat panduan perlindungan baru.
