Sebagian besar anak muda berusia 18 hingga 34 tahun menyatakan tidak percaya kepada para pemimpin perusahaan kecerdasan buatan.
Berdasarkan hasil survei CNBC dan Generational Lab, CEO Palantir Alex Karp menduduki peringkat pertama sebagai sosok yang paling tidak dipercayai responden.
>>> Telkomsat Bantu Komunikasi Pascagempa NTT Lewat 17 Titik Internet Satelit
Sebanyak 81 persen responden merasa ragu bahwa Karp mampu bertindak secara bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Selain Karp, Chairman sekaligus rekan pendiri Palantir yaitu Peter Thiel turut mencatatkan angka ketidakpercayaan yang tinggi sebesar 79 persen.
Karp dikenal sebagai figur kontroversial di industri teknologi karena sempat merilis manifesto yang memuji kekuatan Amerika Serikat secara terbuka.
Dalam unggahan di media sosial, ia menyebutkan bahwa beberapa kebudayaan tertentu bersifat regresif serta berbahaya bagi peradaban.
Ia juga melayangkan kritik terhadap negara-negara Barat yang dianggapnya menolak mendefinisikan budaya nasional demi mengutamakan inklusivitas.
Tidak hanya itu, Karp pernah memberikan komentar pedas terkait konflik yang melibatkan Israel dan Palestina di berbagai kesempatan.
Ia sempat mengecam aksi unjuk rasa mahasiswa di berbagai universitas Amerika Serikat dan menilai para aktivis perdamaian sebagai aktivis perang.
Laporan Amnesty International mengungkapkan bahwa perangkat kecerdasan buatan Palantir dimanfaatkan oleh Departemen Keamanan Nasional AS.
>>> Alvin Bahar Kian Dekati Gelar Juara Nasional Usai Kuasai Mandalika
Teknologi tersebut digunakan untuk menargetkan warga non-Amerika yang menyuarakan dukungan terhadap hak-hak warga Palestina.
Palantir juga memiliki kerja sama strategis untuk memasok sistem teknologi canggih guna mendukung kebutuhan militer Israel.
Ketika militer AS menyerang sejumlah kapal di kawasan Laut Karibia pada September 2025, Karp memberikan pernyataan yang mencuri perhatian.
Ia menyiratkan agar kejahatan perang diakui secara konstitusional demi mendatangkan keuntungan finansial bagi perusahaan miliknya.
Saat berbicara di ajang DealBook Summit pada Desember 2025, ia menyebut semakin konstitusional tindakan tersebut maka produknya semakin dibutuhkan.
Pria berumur 58 tahun ini juga secara tegas menentang kebijakan perbatasan terbuka dan para imigran.
Karp berulang kali melontarkan pujian kepada kebijakan imigrasi Donald Trump serta menawarkan layanan Palantir kepada lembaga ICE.
Lembaga ICE kemudian mengumumkan bahwa Palantir dipercaya untuk membangun platform pengawasan bernama ImmigrationOS.
>>> Kondisi Jamal Musiala Mengkhawatirkan Usai Pingsan Dua Kali dalam Tiga Hari
Platform pengawasan senilai 30 juta dolar AS tersebut dirancang khusus untuk mendukung kebijakan deportasi massal di Amerika Serikat.

