⌂ Beranda News Fakta Sains di Balik Partikel Tajam dan Berbahaya dari Abu Vulkanik
News

Fakta Sains di Balik Partikel Tajam dan Berbahaya dari Abu Vulkanik

Ilustrasi abu vulkanik dari letusan gunung berapi
Fakta Sains di Balik Partikel Tajam dan Berbahaya dari Abu Vulkanik
A A Ukuran Teks16px

Banyak orang mengira abu vulkanik mirip dengan sisa pembakaran kayu atau kertas biasa.

Padahal, material abu tersebut merupakan kumpulan partikel sangat kecil dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik.

Ukuran partikelnya bisa sangat halus, mulai dari kurang dari 0,001 milimeter hingga sekitar 2 milimeter.

Proses Pembentukan dari Magma

Proses pembentukan material ini bermula dari magma yang berada di bawah permukaan Bumi.

Magma tersebut mengandung gas terlarut seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Ketika magma naik ke permukaan, tekanan di sekitarnya akan berkurang drastis.

Gas di dalam magma kemudian mengembang dan berusaha keluar secara bersamaan.

Pada jenis magma yang kental, gas tersebut sangat sulit keluar sehingga tekanan menumpuk.

Ledakan terjadi ketika tekanan gas terlepas sangat cepat dan memecah magma menjadi serpihan kecil.

Mekanisme ini mirip dengan membuka botol minuman bersoda yang sebelumnya telah dikocok.

Selain dari magma baru, abu juga bisa berasal dari hancurnya batuan di dalam saluran gunung api.

Fragmen batuan tersebut ikut terlontar ke udara bersama material erupsi lainnya.

US Geological Survey menyatakan bahwa abu vulkanik tersusun atas pecahan kaca silika, mineral, dan fragmen batuan.

Permukaan partikel abu memiliki bentuk yang tajam, tidak beraturan, serta bersifat keras.

Karakteristik tersebut membuat abu vulkanik berbahaya bagi kesehatan, mesin, dan penerbangan.

Partikel abu yang sangat halus juga mampu terbawa angin kencang hingga jarak jauh.

Hal inilah yang menyebabkan wilayah jauh dari gunung api tetap bisa mengalami hujan abu.

📰 Update Terbaru