⌂ Beranda News Bahaya Gambut Kering di Balik Karhutla yang Terus Berulang Menurut Pakar ITB
News

Bahaya Gambut Kering di Balik Karhutla yang Terus Berulang Menurut Pakar ITB

Ilustrasi kebakaran lahan gambut dan kabut asap
Bahaya Gambut Kering di Balik Karhutla yang Terus Berulang Menurut Pakar ITB
A A Ukuran Teks16px

Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman serius ketika musim kemarau tiba.

Persoalan ini tidak sesederhana api yang muncul lalu segera dipadamkan.

Pakar ekologi dari ITB, Dr. Elham Sumarga, menjelaskan kondisi ekosistem gambut.

Gambut secara alami merupakan lahan basah yang terbentuk dari akumulasi material organik.

Kandungan air yang tinggi membuat material organik di dalamnya relatif sulit terbakar.

Ancaman Pembakaran di Bawah Permukaan Tanah

Persoalan muncul ketika lahan gambut mengalami pengeringan akibat pembangunan kanal.

Bahan organik yang mengering berubah menjadi akumulasi bahan bakar yang luas.

Fenomena subsurface smoldering membuat api merambat di bawah permukaan tanah.

Titik panas dapat bertahan lama meskipun api di permukaan tampak sudah padam.

Asap kebakaran membawa partikulat halus yang berisiko mengganggu pernapasan.

Aktivitas masyarakat, layanan publik, hingga transportasi udara ikut terdampak.

Kebakaran juga menghancurkan habitat satwa liar seperti orangutan di Kalimantan.

Pelepasan Karbon dan Solusi Pemulihan Lahan

Material organik yang menumpuk di gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Karbon tersebut terlepas ke atmosfer dan memicu lingkaran perubahan iklim.

Pengeringan gambut juga memicu penurunan permukaan tanah dalam jangka panjang.

Pendekatan pemodelan hidrologis dapat dipakai untuk memperkirakan risiko bencana.

Langkah pembasahan kembali atau rewetting menjadi strategi penting pemulihan.

Paludikultur dapat menjadi pilihan budidaya yang sesuai dengan karakter lahan basah.

📰 Update Terbaru