Sekelompok peneliti berhasil meraih penghargaan Ig Nobel Prize Kimia 2026 berkat studi unik mengenai kandungan nutrisi dari cairan yang dihasilkan spesies kecoa.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Leonard Chavas dari Nagoya University, Ramaswamy Subramanian dari Purdue University, serta Nathan Coussens dari Frederick National Laboratory for Cancer Research.
Fokus riset ini mengkaji spesies Diploptera punctata atau kecoa kumbang Pasifik yang melahirkan anak hidup.
Induk betina dari spesies tersebut memproduksi cairan kaya nutrisi di dalam bagian tubuh bernama brood sac.
Cairan mirip susu ini dikonsumsi oleh embrio yang sedang berkembang di dalam tubuh induknya.
Setelah masuk ke saluran pencernaan embrio, sebagian cairan tersebut terkonsentrasi dan membentuk kristal protein.
Para ilmuwan kemudian menganalisis kristal tersebut menggunakan teknik kristalografi sinar-X untuk melihat struktur protein hingga tingkat atom.
Hasil analisis membuktikan bahwa kristal itu tidak hanya berisi protein, melainkan juga melibatkan karbohidrat dan lipid.
Komposisi tersebut menjadikan kristal ini berfungsi sebagai cadangan makanan padat energi bagi embrio.
Studi mendasar mengenai struktur kristal protein embrio D. punctata ini sebenarnya telah dipublikasikan pada 2016 di jurnal IUCrJ.
Berdasarkan perbandingan dengan susu sapi, satu kristal susu kecoa ternyata mengandung energi tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan protein susu sapi dalam jumlah setara.
Meskipun terdengar tidak biasa, temuan ini menjelaskan strategi biologis yang efisien dalam menyediakan pasokan nutrisi bagi embrio.
Seremoni penyerahan penghargaan tersebut dilangsungkan pada 3 September 2026 di Zurich, Swiss.
Para ahli menegaskan bahwa penemuan ini bukan berarti susu kecoa siap dikonsumsi manusia atau menjadi pengganti susu sapi.