Terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik mengalami tekanan berat akibat maraknya praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.
Metode ini memanfaatkan peledak untuk membunuh ikan di sekitar perairan demi mendapatkan hasil tangkapan secara instan.
>>> Pesan Wayne Rooney untuk Marcus Rashford di Manchester United
Ekosistem bawah laut menghadapi ancaman serius karena gelombang kejut dari bahan peledak tersebut menghancurkan habitat laut.
Pemantauan Mikrofon Bawah Air
Tim ilmuwan dari Inggris dan Indonesia menempatkan mikrofon bawah air untuk mendeteksi suara ledakan di Kepulauan Spermonde.
Alat tersebut mencakup area seluas setidaknya 900 kilometer persegi di wilayah perairan.
Para peneliti menggunakan algoritma machine learning untuk menganalisis rekaman audio yang terkumpul dari lokasi penelitian.
Hasilnya mencatat ada 3.570 ledakan bom dalam durasi rekaman audio selama 3.650 jam.
Angka tersebut setara dengan 8.500 kali pelemparan bom dalam satu tahun penuh.
>>> Man City Belum Diputus, Arsenal Desak Keterbukaan Kasus Dugaan Pelanggaran Finansial
Situasi ini menunjukkan bahwa satu bom meledak di laut Indonesia setiap 62 menit.
Tingkat kerusakan akibat peledakan ini diperkirakan mencapai 0,17 kilometer persegi per tahun.
Upaya Restorasi Terumbu Karang
Upaya konservasi terbukti lebih efektif apabila dikelola langsung oleh masyarakat setempat.
Kepulauan ini menjadi lokasi program restorasi terumbu karang menggunakan struktur baja berbentuk bintang.
Struktur tersebut dilapisi pasir terumbu guna menstabilkan pecahan karang akibat ledakan.
>>> Samsung Galaxy S26 FE Segera Rilis, Catat Jadwal Acara 27 Agustus
Fragmen karang sehat kemudian dipasang pada struktur baja untuk mempercepat pemulihan habitat.
