Negara seperti Korea Selatan dan Taiwan turut menikmati pertumbuhan ekonomi dari tren tersebut.
Mengenai risiko makro, Toni Meadows memprediksi inflasi berpotensi mendaki selama Selat Hormuz diblokade. Kendati demikian, pasar berspekulasi bahwa Donald Trump maupun pihak Iran tidak berkeinginan memperpanjang eskalasi senjata.
"Meskipun demikian, pada titik tertentu dampak konflik, jika tidak terselesaikan, akan menyebabkan penurunan permintaan yang tidak dapat diabaikan oleh investor," ucap dia.
Lonjakan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah
Pasar obligasi dunia mengalami fluktuasi tajam dengan tingkat imbal hasil (yield) surat utang negara yang bertahan di level tinggi.
Kondisi ini menekan nilai aset tetap karena pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan imbal hasilnya.
Surat utang pemerintah AS termasuk yang mengalami lonjakan imbal hasil secara masif. Investor bergerak cepat mengantisipasi risiko pembengkakan inflasi dan potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.
Pada bulan lalu, imbal hasil untuk obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun bahkan telah menyentuh level tertinggi sejak periode sebelum krisis keuangan global.
Fenomena serupa menimpa negara-negara dengan skala ekonomi besar lainnya.
Inggris yang sedang menghadapi dinamika politik domestik juga melihat obligasi pemerintah mereka, gilts, dijual secara agresif oleh pelaku pasar.
>>> Bahaya Menonton Video Saat Mengemudi: Distraksi Berlapis yang Memicu Kecelakaan
Kepala bagian investasi di Premier Miton Investors, Neil Birrell, menilai pasar obligasi merefleksikan kecemasan nyata terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi dan hambatan logistik global.
"Lamanya inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi mungkin lebih penting daripada puncak absolut yang dicapainya, jadi dengan situasi saat ini yang tampaknya akan berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi akan terganggu dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan tetap tinggi, sehingga menyulitkan saham untuk mempertahankan levelnya," kata dia.
