Ia menekankan bahwa ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi, Indonesia harus memiliki banyak pilihan mitra strategis.
Rusia dapat menjadi salah satu pilar penting dalam strategi diversifikasi tersebut.
Kemitraan di sektor migas saat ini tidak lagi terbatas pada transaksi jual beli minyak mentah.
Negara-negara yang sukses membangun ketahanan energi umumnya mengembangkan kolaborasi yang mencakup investasi, teknologi, riset, pengembangan SDM, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Oleh karena itu, Indonesia perlu mendorong kerja sama yang lebih luas dengan perusahaan-perusahaan energi Rusia. Perusahaan tersebut memiliki pengalaman internasional dalam eksplorasi, produksi, pengolahan, dan distribusi energi.
"Indonesia harus mengambil manfaat sebesar-besarnya dari setiap kerja sama internasional.
>>> KLH Targetkan Penanaman 2 Miliar Pohon di Seluruh Indonesia
Yang kita kejar bukan sekadar pasokan energi, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM nasional, serta investasi yang dapat memperkuat daya saing industri energi Indonesia dalam jangka panjang," pungkas Bamsoet.
