Metode pengujian lama ini dinilai kurang mampu merefleksikan situasi berkendara pada dunia nyata. Kondisi ideal di laboratorium membuat hasil efisiensi menjadi sangat optimistis dibanding penggunaan riil harian.
Aspek kelistrikan harian seperti penggunaan pendingin udara atau lampu tidak dihitung dalam kalkulasi energi. Padahal, fitur-fitur pendukung tersebut menyedot daya baterai yang cukup besar saat melaju di jalanan.
Pola akselerasi dalam pengujian tersebut juga dianggap terlalu ringan jika dibandingkan arus lalu lintas modern.
Standarisasi baku yang kaku memicu celah bagi produsen untuk mengoptimalkan setelan mesin khusus ruang uji.
Siklus pengujian ini secara umum menerapkan porsi 66 persen simulasi urban dan 34 persen jalan raya. Durasi total evaluasi hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit.
Sejak diterapkan tahun 1980-an, regulasi ini akhirnya mulai digantikan pada tahun 2017.
>>> Vandalisme Lumpuhkan Lift JPO Tapal Kuda Lenteng Agung
Kini industri global beralih memakai Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure (WLTP) yang dinilai jauh lebih akurat.
