Penurunan ini disebabkan oleh pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan obligasi global, dan transaksi perpajakan.
Sebelum keputusan suku bunga, spekulasi rapat darurat sempat merebak akibat pelemahan rupiah yang menyentuh Rp18.200 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan komitmen bank sentral untuk mengawal pergerakan mata uang melalui intervensi taktis.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah juga didorong oleh meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Harga minyak dunia menurun setelah Iran dan Israel menghentikan penyerangan sementara.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia oleh meredanya geopolitik di Timteng," kata Lukman.
Namun, Lukman memproyeksikan penguatan akan terbatas karena sentimen domestik yang masih negatif. "Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan," ungkapnya.
>>> Harga Minyak Berfluktuasi Akibat Ketegangan di Selat Hormuz
Bank Indonesia menjadwalkan Rapat Dewan Gubernur bulanan berikutnya pada 17-18 Juni 2026. Rapat koordinasi mingguan tetap berlangsung setiap Selasa dan Kamis.
