⌂ Beranda News Harga Minyak Berfluktuasi Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Harga Minyak Berfluktuasi Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

Harga Minyak Berfluktuasi Akibat Ketegangan di Selat Hormuz
Kapal di Selat Hormuz dengan latar belakang ketegangan militer
A A Ukuran Teks16px

Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif pada pekan ini.

Sebelumnya, harga sempat melonjak hampir 5 persen akibat serangan militer Israel terhadap fasilitas petrokimia Iran.

>>> Pertamina Pertahankan Harga Pertalite dan Biosolar per 10 Juni 2026

Namun, harga kembali melemah seiring meredanya intensitas konflik.

Berdasarkan data Refinitiv pada Selasa pagi, 9 Juni 2026, kontrak minyak Brent berada di level US$93,64 per barel.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi ke posisi US$90,66 per barel.

Sehari sebelumnya, Brent sempat melesat ke US$97,44 per barel dan WTI menguat ke US$94,62 per barel.

Lonjakan itu dipicu aksi militer Israel di dekat Mahshahr, Iran barat daya.

Dampak pada Selat Hormuz

Konflik bersenjata ini berdampak langsung pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Selat tersebut menjadi rute distribusi bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas alam cair dunia.

Otoritas Teheran kini memberlakukan pembatasan ketat di saluran air tersebut.

Sekitar 1.600 kapal komersial terjebak di kawasan Teluk selama hampir 100 hari.

Para awak kapal menghadapi tekanan psikologis dan ketidakpastian.

"Benar-benar aneh bahwa segala sesuatu terlihat normal di luar, tetapi orang-orang di dalam tidak tenang," kata Hassan Khan, pelaut asal Pakistan.

Para awak kapal harus menghadapi situasi mencekam dengan pergerakan jet tempur, drone, serta risiko ranjau laut.

"Stres selalu ada di pikiran kami," ujar Hassan Khan.

Selain faktor keamanan, para pelaut juga menghadapi kendala operasional akibat lonjakan harga kebutuhan pokok.

"Semua orang benar-benar kelelahan, baik fisik maupun mental," tambahnya.

Kapten kapal lainnya, Shafiqul Islam, mengonfirmasi upaya keluar dari wilayah tersebut terus gagal.

"Seolah-olah kami terjebak di sebuah kolam. Hanya ada satu jalan keluar, dan itu adalah Hormuz," jelasnya.

Krisis logistik memicu lonjakan biaya operasional kapal, terutama untuk air bersih.

>>> IHSG Menguat ke Level 5.746 Meski BI Naikkan Suku Bunga

"Kami membeli sekitar 180 ton air untuk kapal dua hari lalu. Sebelumnya biayanya antara US$1.500 dan US$2.000.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru