Daya tarik imbal hasil aset yang lebih kompetitif diproyeksikan membuat investor global melirik sektor obligasi atau bond market terlebih dahulu.
Setelah itu, dana diperkirakan mengalir ke pasar saham guna membangun pemulihan likuiditas serta sentimen positif di bursa efek.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, berpandangan bahwa peluang bagi modal asing untuk masuk terhitung cukup lebar.
>>> 8 Pemain Manchester City yang Berpotensi Hengkang Musim Panas Ini
Proses masuknya dana tersebut diyakini akan mengikuti tahapan siklus likuiditas dan tidak bergulir secara instan.
Menurut analisisnya, pasar obligasi menjadi instrumen utama yang merespons perubahan suku bunga secara cepat.
Ketika BI Rate dikerek naik, tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah bakal ikut terkerek sehingga daya tariknya meningkat dibanding periode sebelumnya.
“Potensinya sangat terbuka, tapi alurnya akan bertahap melalui siklus likuiditas.
Keputusan BI menaikkan suku bunga ini instrumen pertama yang akan langsung merespons dan menarik dana asing adalah pasar obligasi, karena yield yang ditawarkan jadi jauh lebih kompetitif,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.
com, Selasa (9/6/2023).
Kebijakan peningkatan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang tahun 2023 dipandang memberi efek bagi penilaian harga saham di BEI.
Berdasarkan kalkulasi keuangan, lonjakan suku bunga ini otomatis memicu proses revaluasi karena investor menyelaraskan ulang proyeksi nilai wajar saham.
“Secara matematis, kenaikan suku bunga sebesar 75 bps (basis poin) dalam waktu yang relatif singkat ini pasti akan memicu terjadinya revaluasi di pasar,” imbuhnya.
Kondisi ini terjadi lantaran suku bunga yang tinggi mengerek tingkat diskonto (discount rate) dalam kalkulasi valuasi.
Saat tingkat diskonto melonjak, nilai saat ini (present value) dari proyeksi arus kas serta laba emiten di masa depan akan menyusut.
