Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan avtur sebagai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent diprediksi rata-rata mencapai 95 dollar AS per barrel pada 2026, naik dari 69 dollar AS pada 2025.
Harga avtur diperkirakan meningkat menjadi 152 dollar AS per barrel dari sebelumnya 90 dollar AS per barrel.
Akibatnya, porsi biaya avtur terhadap total pengeluaran operasional maskapai meningkat menjadi 31,4 persen dari 25,4 persen.
Perubahan harga bahan bakar yang mendadak lebih sulit dihadapi maskapai dibandingkan harga tinggi yang berlangsung jangka panjang. Maskapai membutuhkan waktu untuk menyesuaikan tarif dan strategi operasionalnya.
>>> BI Rate Naik ke 5,50%, Sektor Usaha Pasar Modal Hadapi Risiko Finansial
Bagi maskapai Asia yang banyak mengoperasikan rute jarak jauh, kenaikan harga avtur memberikan tekanan ganda.
Selain biaya bahan bakar, beberapa rute harus menempuh jalur yang lebih panjang akibat penutupan ruang udara dan pertimbangan keamanan.
Permintaan Perjalanan Tetap Menjadi Penopang
Di tengah tekanan biaya, permintaan perjalanan udara masih menjadi faktor penyangga industri penerbangan Asia. IATA mencatat pendapatan industri tetap tumbuh karena permintaan penumpang dan kargo udara masih kuat.
CEO Airbus, Guillaume Faury, menyatakan bahwa pihak maskapai masih mempertahankan komitmen pembelian pesawat karena melihat permintaan jangka panjang tetap kuat.
Kawasan Asia selama bertahun-tahun menjadi pasar pertumbuhan utama bagi produsen pesawat dunia.
Banyak maskapai Asia masih memiliki rencana ekspansi armada untuk memenuhi pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan mobilitas masyarakat.
Maskapai Berbiaya Rendah Paling Rentan
Tekanan biaya yang meningkat diperkirakan tidak dirasakan secara merata. Maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier (LCC) menjadi kelompok yang paling rentan.
Lonjakan harga avtur berpotensi memicu kebangkrutan dan konsolidasi industri.
