⌂ Beranda News Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Mendadak, Apa Dampaknya?

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Mendadak, Apa Dampaknya?

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Mendadak, Apa Dampaknya?
Gedung Bank Indonesia dengan latar belakang grafik naik menandakan kenaikan suku bunga
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 9 Juni, di luar jadwal rutin.

>>> Bahlil Lahadalia: Program Makan Bergizi Gratis Harus Diwujudkan

Langkah ini diambil BI di tengah merosotnya nilai tukar rupiah dan mengalirnya keluar dana investor (capital outflow). Permintaan dolar Amerika Serikat di dalam negeri juga meningkat.

Kenaikan suku bunga ini dilakukan meskipun inflasi Indonesia masih relatif terkendali. Biasanya, kenaikan suku bunga bertujuan untuk menekan inflasi yang terlalu tinggi.

Namun, kali ini ancaman utama yang direspons BI adalah melemahnya kepercayaan pasar terhadap rupiah dan perekonomian Indonesia, bukan kenaikan harga barang.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga meluncurkan empat kebijakan lain untuk menyelamatkan rupiah.

Pertama, menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 6, 9, dan 12 bulan untuk menarik minat investor asing.

Kedua, menurunkan biaya lindung nilai sebesar 10 persen guna menekan risiko perubahan kurs rupiah bagi investor asing.

Ketiga, membuka kembali fasilitas repurchase agreement (repo) tenor 3-12 bulan untuk menjaga likuiditas perbankan.

Keempat, BI akan meningkatkan operasi moneter, termasuk lelang SRBI dua kali seminggu dan intervensi pasar valas.

Pasar merespons positif kebijakan ini dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 7 persen, terutama pada saham-saham bank besar.

Hal ini menunjukkan keyakinan pasar bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah.

>>> 23.814 Siswa Penerima PIP Lolos SNBT 2026, Siap Terima KIP Kuliah

Keputusan kenaikan suku bunga mendadak ini merupakan respons BI terhadap tekanan pada stabilitas ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah dan risiko eksternal, yang tidak dapat lagi diatasi dengan pendekatan biasa.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM