Potensi konversi sepeda motor bensin menjadi kendaraan listrik di Indonesia masih sangat besar. Keunggulan utama terletak pada kemudahan perawatan dan ketersediaan suku cadang.
Pemilik bengkel Dolland Motor Electric di Bekasi, Abdullah, menjelaskan bahwa penggunaan basis motor Jepang memberikan keuntungan besar. Jaringan komponennya telah terbentuk selama puluhan tahun.
>>> Prabowo Tetap Pakai Pindad Maung Meski Bocor, Ini Alasannya
"Motor Jepang yang kita pakai kan seperti itu. Motor-motor Jepang di Indonesia punya ketersediaan spare part yang melimpah.
Mulai dari body part sampai perintilan yang sulit dicari sekalipun," kata Abdullah.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan motor listrik murni yang masih mengandalkan komponen khusus. Beberapa komponen motor listrik yang langka bahkan membutuhkan waktu pengadaan lama.
"Kalau di motor listrik, komponen yang susah dicari bisa sampai satu bulan," ujar Abdullah.
Kemudahan pencarian suku cadang motor konvensional asal Jepang menjadi daya tarik utama. Hal ini memangkas waktu tunggu perbaikan secara signifikan.
"Tapi kalau di motor-motor Jepang, seperti Honda, Yamaha, Kawasaki, dan lain-lain, sesulit apa pun biasanya paling lama seminggu sudah ketemu suku cadangnya," kata Abdullah.
Dua Sistem Baterai untuk Konversi
Selain suku cadang, proses konversi dipandang efektif untuk mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan. Namun, Abdullah mengingatkan perlunya tata kelola baterai yang terintegrasi.
"Jadi, kalau konversi sebenarnya bagus untuk dijalankan. Tapi, sistem baterainya itu jangan dilepas begitu saja.
>>> Penjualan Sepeda Motor Nasional Turun 7,9 Persen pada Mei 2026
Saat ini kan sudah dikasih baterai, lalu terserah pengguna mau diapakan baterainya," kata Abdullah.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Abdullah menyarankan penerapan dua sistem manajemen daya sekaligus. Penggabungan metode ini dinilai bisa mengakomodasi perbedaan karakteristik operasional.
"Kalau konversi, saran saya tetap pakai dua sistem, yaitu swap dan baterai tanam," ujar Abdullah.
