Pada akhirnya, kenaikan harga BBM bukanlah tujuan. Ia hanyalah konsekuensi dari perubahan kondisi ekonomi yang harus dikelola secara hati-hati.
Yang lebih penting adalah bagaimana momentum tersebut digunakan untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional. Stabilitas fiskal memang penting karena menjadi fondasi keberlanjutan pembangunan.
Namun, stabilitas fiskal yang baik pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, penguatan daya saing, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa maju tidak dibangun oleh energi murah, melainkan oleh produktivitas tinggi, inovasi berkelanjutan, dan keberanian melakukan transformasi ketika tekanan datang.
Dalam perspektif itu, kenaikan harga BBM sesungguhnya bukan sekadar ujian bagi APBN atau daya beli masyarakat.
Ia adalah ujian bagi kemampuan Indonesia mengubah tekanan jangka pendek menjadi fondasi kemajuan jangka panjang. Pertanyaannya bukan apakah harga BBM naik atau tidak.
Pertanyaannya adalah apakah setelah kenaikan itu, Indonesia menjadi lebih produktif, lebih efisien, dan lebih berdaya saing dibanding sebelumnya.
>>> Harga Oli Motor Melonjak Drastis, Bengkel Kecil Terpukul
Di situlah ukuran sesungguhnya dari keberhasilan sebuah kebijakan ekonomi.
