Peneliti Hong Kong Polytechnic University, Hanjiang Dong, menilai keberhasilan China disebabkan oleh tingginya permintaan pasar, kemampuan industri, rekayasa kelautan, dan dukungan pemerintah.
China menempatkan AI sebagai pilar penting strategi ekonomi.
Pada 2025, pemerintah China merilis rencana aksi AI nasional untuk mempercepat infrastruktur komputasi AI generatif. Pemerintah juga menargetkan peningkatan pasokan energi bersih untuk infrastruktur AI sebelum 2030.
Antisipasi Dampak Lingkungan
Meskipun menguntungkan, para ahli mengingatkan potensi dampak negatif terhadap ekosistem laut. Risiko yang diwaspadai adalah gangguan sedimen dasar laut dan kenaikan suhu air di sekitar fasilitas.
Para peneliti memprediksi dampak tersebut hanya bersifat lokal. Masalah ini dinilai masih dapat dikelola lewat pemantauan berkelanjutan.
Profesor biologi kelautan Bournemouth University, Rick Stafford, mengatakan peningkatan suhu akibat data center bawah laut kemungkinan tidak akan menyebar jauh dari lokasi.
>>> Turki Hadapi Australia pada Laga Pembuka Grup D Piala Dunia 2026
Konsep ini dipandang sebagai solusi strategis untuk mengurangi jejak energi dan air dari ekspansi infrastruktur AI yang terus tumbuh cepat.
