⌂ Beranda News Rupiah Menguat ke Rp 17.860 per Dollar AS, Ditopang Kenaikan BI Rate

Rupiah Menguat ke Rp 17.860 per Dollar AS, Ditopang Kenaikan BI Rate

Rupiah Menguat ke Rp 17.860 per Dollar AS, Ditopang Kenaikan BI Rate
Ilustrasi emas batangan Antam dan UBS
A A Ukuran Teks16px

Angka pertumbuhan triwulanan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal II-2021.

Sektor konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial berkat momentum bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Faktor pendorong lainnya meliputi percepatan pencairan tunjangan hari raya (THR) bagi ASN serta dimulainya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sepanjang tahun berjalan, tingkat konsumsi masyarakat diprediksi mampu tumbuh pada kisaran 5,0 persen.

Sementara itu, belanja atau konsumsi dari sektor pemerintah diproyeksikan mengalami lonjakan hingga 8,7 persen.

Aktivitas investasi di dalam negeri juga memperlihatkan performa yang meyakinkan.

Hal ini ditunjukkan oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencatatkan pertumbuhan solid di level 6,0 persen pada kuartal I-2026.

Mengantisipasi Dampak Sentimen Global

Meskipun performa rupiah sedang berada dalam tren positif, potensi tekanan dari luar negeri tetap harus diwaspadai oleh pelaku pasar keuangan dalam jangka pendek.

Menurut Josua, penguatan rupiah masih dibatasi oleh kombinasi penguatan dollar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan tingginya ketidakpastian global.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang terus bergejolak membuat aset safe haven seperti dollar AS kembali diburu investor.

Spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed juga masih membayangi dinamika pasar.

Rilis data Producer Price Index (PPI) AS edisi Mei 2026 menunjukkan kenaikan yang melebihi estimasi awal pasar.

Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS berpeluang mengerek suku bunga mereka sekali lagi di penghujung tahun.

Saat ini, probabilitas bagi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan Desember 2026 berada pada kisaran 60 persen.

Konflik yang melibatkan Iran di wilayah Selat Hormuz juga berisiko mengerek harga minyak dunia.

Proyeksi dan Langkah Stabilisasi ke Depan

Bank Indonesia berkomitmen penuh menjaga momentum penguatan rupiah agar bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya. Bank sentral siap memaksimalkan bauran kebijakan instrumen moneter yang ada saat ini.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM