“Dalam time horizon yang lebih pendek atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang.
Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” ujar Imam dalam keterangan pers, Senin (15/6/2026).
Namun, jika mencermati dua candle terakhir, pergerakan IHSG mulai kehilangan momentum. Candle pertama membentuk pola spinning top yang mengindikasikan keragu-raguan di kalangan pelaku pasar.
Pada candle terakhir, IHSG sempat menembus (breakout) area spinning top sebelumnya selama perdagangan berlangsung. Hal ini sempat memunculkan optimisme di kalangan investor.
Namun pada akhirnya, IHSG ditutup dengan membentuk pola shooting star dan gagal menembus area resistance spinning top. Kondisi tersebut kembali memunculkan keraguan di pasar.
“Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star.
>>> Reijnders dan Koeman Dikritik Usai Belanda Imbang Lawan Jepang
Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695,” paparnya.
Rekomendasi Saham IPOT
Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dalam sepekan ke depan. Pertama, Buy on Pullback untuk TPIA dengan target price (TP) 2.070.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dicermati setelah aksi shareholding rebalancing oleh SCG Chemicals (SCGC). SCGC menurunkan porsi kepemilikannya dari 29,38 persen menjadi 15,71 persen.
Meski kepemilikannya berkurang, SCGC menegaskan tetap menjadi pemegang saham strategis jangka panjang. Fundamental dan arah bisnis TPIA tidak berubah.
Transaksi tersebut berdampak positif terhadap peningkatan porsi saham publik (free float) TPIA menjadi sekitar 25,7 persen.
Peningkatan free float berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan menarik minat investor institusi global.