⌂ Beranda News Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah

Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah

Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah
Donald Trump dan peta Timur Tengah
A A Ukuran Teks16px

Dalam dunia multipolar yang saling terhubung oleh energi dan perdagangan global, perang besar justru dianggap terlalu mahal untuk dimenangkan.

Israel, Hizbullah, dan Kompleksitas Konflik Proksi

Meskipun AS dan Iran bergerak menuju rekonsiliasi terbatas, faktor terbesar yang mengancam keberhasilan perdamaian tetap berasal dari konflik Israel dan jaringan proksi Iran di kawasan.

Serangan Israel terhadap Beirut selatan menjadi bukti bahwa Tel Aviv memiliki kepentingan strategis yang berbeda dengan Washington.

Israel memandang Hizbullah sebagai ancaman eksistensial karena kelompok tersebut memiliki ribuan rudal yang mampu menjangkau wilayah Israel.

Karena Hizbullah didukung Iran, maka setiap kompromi antara AS dan Iran dipandang berpotensi memperkuat musuh utama Israel.

Di sisi lain, Iran menganggap Hizbullah sebagai garis pertahanan terdepan menghadapi Israel.

Dukungan terhadap Lebanon selatan merupakan bagian dari strategi "forward defense" Iran, yaitu mempertahankan pengaruh regional dengan membangun jaringan kekuatan non-negara di Timur Tengah.

Akibatnya, konflik Israel-Hizbullah sering kali menjadi faktor pengganggu utama setiap negosiasi AS-Iran.

Bahkan Trump sendiri dikabarkan marah terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena serangan udara ke Beirut dianggap menghambat proses penandatanganan perdamaian.

Situasi ini memperlihatkan bahwa Timur Tengah tidak hanya dipengaruhi konflik antarnegara, tetapi juga konflik proksi.

Dalam model konflik proksi, negara-negara besar tidak selalu bertempur langsung, melainkan menggunakan kelompok sekutu untuk mempertahankan pengaruh geopolitik mereka.

Selain Hizbullah di Lebanon, Iran juga memiliki jaringan pengaruh di Suriah, Irak, Yaman, dan Teluk Persia. Kelompok-kelompok tersebut menjadi bagian dari strategi regional Iran untuk menghadapi tekanan Barat.

Sementara Israel memandang keberadaan jaringan itu sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.

Karena itulah kesepakatan damai AS-Iran belum otomatis berarti stabilitas penuh Timur Tengah. Konflik proksi tetap dapat berlangsung meski Washington dan Teheran menandatangani nota perdamaian.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM