⌂ Beranda News Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah

Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah

Paradoks Politik Trump: Seruan Damai di Tengah Perang Timur Tengah
Donald Trump dan peta Timur Tengah
A A Ukuran Teks16px

Perdamaian hanya bersifat teknis untuk menjaga stabilitas energi global, bukan menyelesaikan akar konflik. Timur Tengah tetap berada dalam situasi "tidak perang tetapi juga tidak damai".

Ketiga, skenario pesimistis, yakni pecahnya perang regional baru. Skenario ini dapat terjadi apabila negosiasi gagal total, terutama terkait isu nuklir Iran.

Jika Israel merasa Iran semakin dekat memiliki kapasitas nuklir militer, Tel Aviv kemungkinan akan melakukan serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Iran.

Iran tentu akan membalas melalui jaringan proksinya di Lebanon, Suriah, Irak, dan Teluk Persia. Konflik semacam itu dapat memicu perang regional terbesar sejak invasi Irak 2003.

Dampaknya akan sangat luas, yakni harga minyak melonjak, inflasi global meningkat, jalur perdagangan terganggu, dan ekonomi dunia masuk fase krisis baru.

Karena itu, kesepakatan damai AS-Iran pada Juni 2026 sebenarnya bukan akhir konflik Timur Tengah, melainkan hanya jeda dalam pertarungan geopolitik yang lebih panjang.

Dunia sedang menyaksikan transformasi besar dalam hubungan internasional—bahwa perang tidak lagi selalu bertujuan menghancurkan lawan, dan diplomasi tidak lagi identik dengan perdamaian penuh.

Timur Tengah hari ini memperlihatkan sebuah realitas baru bahwa perang dan perdamaian dapat hidup berdampingan secara bersamaan.

>>> Haaland Cetak Dua Gol, Norwegia Taklukkan Irak 4-1 di Piala Dunia 2026

Dalam realitas tersebut, stabilitas global bukan dibangun melalui penyelesaian konflik secara tuntas, melainkan melalui pengelolaan konflik yang terus-menerus.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM