“Secara hitungan valuasi sudah cukup murah hingga menyamai valuasi saat Covid dan beberapa overshoot hingga valuasi saat krisis 2008,” ucap dia.
Menariknya, Faris justru melihat perang dagang berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global.
Ketidakpastian perdagangan internasional dapat mendorong manajer investasi melakukan lindung nilai (hedging) ke pasar yang kaya akan komoditas.
Dalam kondisi perang dagang yang kembali memanas, Faris menyarankan investor untuk mencermati sektor komoditas sebagai instrumen lindung nilai sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan perdagangan global.
Sementara itu, untuk sektor perbankan, ia menilai prospeknya masih akan sangat bergantung pada sejumlah indikator utama, seperti pergerakan nilai tukar rupiah, rasio kredit bermasalah (NPL), dan margin bunga bersih (NIM).
“Untuk perbankan, variabel yang perlu diperhatikan adalah nilai tukar serta tren NPL dan NIM. Jika faktor tersebut bagus, maka akan menjadi katalis positif untuk perbankan,” jelas Faris.
Adapun, sektor konsumsi domestik berpotensi menjadi penopang IHSG apabila sektor manufaktur mengalami tekanan akibat perang dagang.
Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
“Tentu, mengingat komponen GDP 54 persen ditopang dari konsumsi,” lanjut Faris.
Dampak Lebih Luas dan Upaya Pemerintah
Untuk diketahui, rencana AS mengenakan tarif impor baru terhadap sejumlah produk Indonesia berpotensi menekan kinerja ekspor manufaktur nasional.
Tidak hanya mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko mempengaruhi tingkat utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.
Kekhawatiran itu muncul seiring rencana penerapan tarif tambahan berbasis Section 301 Trade Act of 1974 yang akan diberlakukan secara bertahap mulai 24 Juli 2026.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) telah menetapkan forced labor tariff sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan lima negara lainnya.
