⌂ Beranda News Rencana Tarif Impor Trump Berpotensi Tekan Saham Emiten Manufaktur

Rencana Tarif Impor Trump Berpotensi Tekan Saham Emiten Manufaktur

Rencana Tarif Impor Trump Berpotensi Tekan Saham Emiten Manufaktur
Ilustrasi tarif impor AS terhadap produk Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Kondisi itu penting mengingat sektor manufaktur yang berorientasi ekspor umumnya memiliki tingkat pengembalian investasi (ROI) yang relatif rendah, sehingga membutuhkan likuiditas yang kuat untuk menjaga operasional dan ekspansi usaha.

“Tentunya emiten yang dimaksud memiliki destinasi ekspor alternatif selain AS, dan memiliki cashflow yang kuat mengingat sektor ini rendah ROI, sehingga perlu diperhatikan jika emitennya memiliki utang yang tinggi,” lanjutnya.

Ihwal dampaknya terhadap investor asing, Faris menilai risiko perang dagang tidak serta-merta mengubah pandangan mereka terhadap pasar saham Indonesia.

Menurutnya, perhatian investor global kini tidak hanya tertuju pada risiko tarif dan perlambatan perdagangan, tetapi juga pada peluang yang muncul dari penurunan valuasi sejumlah sektor di pasar domestik.

Sektor komoditas dan saham-saham defensif justru menjadi daya tarik utama bagi investor asing.

Pasalnya, kedua sektor itu mengalami penurunan valuasi akibat berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar dalam beberapa pekan terakhir, baik isu MSCI, outlook negatif dari lembaga pemeringkat, hingga konflik geopolitik antara AS dan Iran.

Ia juga menilai potensi arus keluar modal asing (capital outflow) akibat meningkatnya ketegangan dagang relatif terbatas.

Hal ini karena eksposur investor asing terhadap sektor-sektor yang terdampak langsung oleh tarif baru AS masih kecil.

“Kami rasa dampaknya tidak signifikan, mengingat eksposure asing di sektor ini tidak signifikan, serta trading volume rata-rata dari emiten tekstil yang cenderung sepi,” kata Faris.

>>> Kemenaker Tutup Program MagangHub Batch III Angkatan I, Peserta Diminta Lengkapi Administrasi

Dari sisi valuasi, dia mencatat pasar saham Indonesia sudah berada pada level yang cukup murah.

Bahkan, valuasi sejumlah saham telah mendekati level saat pandemi Covid-19 dan sebagian lainnya sudah berada di bawah valuasi pada masa krisis keuangan global 2008.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM