Meski begitu, komitmen perbaikan regulasi oleh otoritas pengawas keuangan dalam negeri tetap diapresiasi. MSCI telah mengakui respons cepat OJK dan SRO dalam melaksanakan langkah-langkah perbaikan.
Kekhawatiran penurunan kelas bursa saham Indonesia tetap menjadi sorotan.
Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, mengatakan penurunan ke frontier market bukan sesuatu yang mustahil dan akan memicu penarikan dana besar-besaran.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti minimnya transparansi berkala mengenai reformasi pasar modal. Hal ini dinilai memicu kepanikan investor beberapa waktu lalu.
Dari kacamata teknikal, kondisi jenuh jual menjadi pendorong penguatan jangka pendek.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengingatkan investor untuk bersiap menghadapi potensi aksi ambil untung jika sentimen negatif datang.
Selain sentimen global, pergerakan bursa dalam negeri juga dibayangi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyarankan investor menunggu break out level 6.300 sebelum average up.
>>> Kemenag Susun Juknis Baru KIP Kuliah 2026, Perluas Kriteria Penerima
Sentimen makroekonomi domestik tetap mendapat dorongan positif setelah Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen pada tahun 2026.
