Bank Indonesia (BI) secara ketat memantau pergerakan inflasi di 13 provinsi yang mulai mendekati atau bahkan melewati batas sasaran nasional.
Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga komoditas global dan potensi risiko cuaca buruk.
>>> KPK Minta Tambahan Anggaran Rp989 Miliar untuk Pemberantasan Korupsi 2027
Deputi Gubernur Senior BI, Aida S Budiman, menjelaskan bahwa tekanan inflasi saat ini dipicu oleh dua faktor utama.
Faktor pertama adalah rambatan global, seperti kenaikan harga minyak dan komoditas dari luar negeri yang dikenal sebagai inflasi impor.
Faktor kedua yang terus diwaspadai adalah gangguan cuaca yang berpotensi mengganggu sektor pertanian dan pasokan pangan nasional.
Kedua faktor ini diperkirakan memengaruhi fluktuasi harga pada kelompok pangan bergejolak serta harga yang ditentukan pemerintah.
Fluktuasi harga bahan bakar minyak nonsubsidi diprediksi menyumbang inflasi sekitar 0,25 persen. Sementara itu, dampak kenaikan harga pupuk dinilai masih minimal karena pasokan dalam negeri mencukupi.
Meskipun ada peningkatan tekanan harga komoditas global, BI memastikan proyeksi inflasi nasional masih terkendali dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen.
Inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan, masih sesuai target.
Inflasi Pangan Bergejolak dan Risiko El Nino
Deputi Gubernur BI, Ricky P Gozali, menyoroti kenaikan signifikan pada kelompok pangan bergejolak yang mencapai 6,24 persen secara tahunan.
"Inflasi volatile food inilah yang dampaknya sangat terasa, terutama di daerah-daerah," ujarnya.
Ancaman penguatan intensitas fenomena cuaca El Nino hingga Oktober atau November 2026 berisiko menekan produktivitas hortikultura, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
>>> IDRS Soroti Standar Keselamatan Motor Listrik yang Belum Mengikat
Peningkatan intensitas El Nino dapat menurunkan produktivitas komoditas hortikultura.
Secara umum, mayoritas wilayah Indonesia masih mencatat tingkat inflasi yang aman dan berada dalam rentang sasaran pada Mei 2026.