Diomande juga menceritakan adaptasi budayanya selama merumput di kompetisi sepak bola Jerman.
>>> Pelita Jaya Jakarta Targetkan Konsistensi di Game Kedua Final IBL
"Aku akan memastikan bahwa kamu tetap hidup," tulis Diomande.
Pemain berusia 19 tahun tersebut bertekad membuktikan kapasitasnya di panggung internasional demi menghormati mendiang saudaranya.
Performa apiknya di Piala Dunia kini memicu ketertarikan dari klub-klub besar Eropa seperti PSG dan Liverpool.
"Aku akan memastikan bahwa semua orang, seluruh dunia, mengenal namamu," tulis Diomande.
Diomande juga mengenang bagaimana kedisiplinan waktu yang ia pelajari di Jerman membentuk kebiasaan barunya hingga memunculkan panggilan unik dari rekan-rekan setimnya.
Kebiasaan hadir lebih awal menjadi salah satu hal yang melekat pada dirinya.
"Saat saya pindah ke Leipzig, saya selalu terlambat," tulis Diomande.
Ia menceritakan perubahan perilakunya dalam mematuhi jadwal latihan dan pertemuan tim selama berkarir di Bundesliga.
Transformasi tersebut diakui sempat memicu candaan di antara para pemain Leipzig.
"Sebenarnya bukan terlambat, melainkan tepat waktu. Namun, di Jerman, itu berarti Anda terlambat sekali.
Karena itu, pada akhirnya saya selalu datang 90 menit lebih awal ke setiap tempat pertemuan. Akhirnya, yang lain mulai memanggil saya 'si Jerman'," tulis Diomande.
Sementara itu, bek tim nasional Jerman Antonio Rüdiger turut memberikan pandangan mengenai karakter ofensif yang dimiliki oleh para pemain sayap Pantai Gading.
"Mereka adalah pemain sayap kelas atas," puji Rüdiger.
Rüdiger menilai akselerasi spontan dan kegemaran lawan dalam mengeksploitasi situasi serangan balik cepat harus diwaspadai sejak menit pertama pertandingan.
"Mereka seperti kereta ekspres," kata Rüdiger.
Menurutnya, skema transisi positif yang diperagakan Pantai Gading akan memaksa lini belakang Jerman bekerja lebih keras dibanding pertandingan sebelumnya.
"Mereka menyukai situasi satu lawan satu dan serangan balik," kata Rüdiger.
