Pemerintah Norwegia secara resmi melarang penggunaan layanan kecerdasan buatan atau AI generatif bagi siswa sekolah dasar. Larangan ini mulai berlaku pada akhir Agustus 2026.
Kebijakan tersebut menyasar pelajar kelas satu hingga kelas tujuh. Rentang usia mereka adalah 6 sampai 13 tahun pada tahun ajaran baru mendatang.
>>> Indeks IDX BUMN20 Tunjukkan Resiliensi di Tengah Volatilitas Pasar
Langkah ini diambil agar anak-anak tidak melompati fase-fase krusial dalam proses pembelajaran. Demikian dilansir dari Detik iNET.
Fokus pada Kemampuan Dasar
Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere menekankan pentingnya penguasaan kemampuan dasar di sekolah.
"Hal terpenting di sekolah adalah anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung," kata Stoere, dikutip dari Reuters, Minggu (21/6/2026).
Aturan ini lebih longgar bagi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa berusia 14 hingga 16 tahun boleh mengakses AI generatif di bawah pengawasan ketat guru.
>>> DPR Setujui Tambahan Anggaran Kemendikdasmen Rp40,75 Triliun
Sementara itu, pelajar berusia 17 tahun ke atas diarahkan untuk memanfaatkan AI secara tepat dan bertanggung jawab.
Lanjutan Pembatasan Digital
Kebijakan pengetatan teknologi di ruang kelas bukan hal baru bagi Norwegia. Pada tahun 2024, mereka melarang penggunaan ponsel pintar akibat penurunan nilai ujian.
Pembatasan gawai itu diklaim sukses menekan angka perundungan. Prestasi akademik pun meningkat, dan kunjungan murid perempuan ke psikolog untuk masalah kesehatan mental berkurang.
Melanjutkan tren pembatasan digital, pemerintah setempat juga menyusun rencana penutupan akses media sosial.
>>> Timnas Jerman Kuasai Puncak Klasemen Grup E Piala Dunia 2026
Proposal regulasi yang melarang penggunaan media sosial untuk anak di bawah usia 16 tahun dijadwalkan masuk dalam pembahasan parlemen pada akhir tahun 2026.