⌂ Beranda News Dua Emiten Baru JELI dan PRDL Siap Melantai di BEI Juli 2026

Dua Emiten Baru JELI dan PRDL Siap Melantai di BEI Juli 2026

Dua Emiten Baru JELI dan PRDL Siap Melantai di BEI Juli 2026
Ilustrasi IPO di Bursa Efek Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menyambut dua calon emiten baru pada awal Juli 2026.

PT Niramas Utama (JELI) dan PT Prodia Diagnostic Line (PRDL) dijadwalkan melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO).

>>> Menteri PU Bangun Jembatan Permanen di Jalur Sumatra-Aceh Tanpa Tunggu Rehabilitasi

JELI, produsen makanan dan minuman di bawah merek INACO, akan mencatatkan sahamnya pada 7 Juli 2026. Sementara PRDL, perusahaan alat kesehatan diagnostik, akan menyusul pada 9 Juli 2026.

Prospek PRDL di Sektor Kesehatan

PRDL mematok harga bookbuilding Rp 100 hingga Rp 120 per saham.

Perusahaan berpotensi mengantongi dana segar maksimal Rp 62,74 miliar dengan menawarkan 522,90 juta saham atau 30% dari modal ditempatkan.

Kinerja keuangan PRDL menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Pendapatan naik 26,8% dari Rp 58,7 miliar pada 2024 menjadi Rp 74,4 miliar pada 2025, sementara laba bersih melonjak 69,9% dari Rp 10 miliar menjadi Rp 17 miliar.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya menilai prospek PRDL menarik karena didukung tren peningkatan belanja kesehatan pemerintah.

Anggaran kesehatan APBN naik dari Rp 218,5 triliun pada 2025 menjadi Rp 244 triliun pada 2026.

Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau lebih dari 70 juta peserta hingga akhir 2025 ditargetkan mencapai 140 juta peserta.

PRDL memperkirakan potensi pasar sekitar Rp 2,2 triliun pada 2026 dari program tersebut.

Pada kisaran harga IPO, valuasi PRDL berada di level P/E sekitar 10–12 kali terhadap laba 2025.

Hendry menilai valuasi tersebut relatif konservatif mengingat margin laba bersih 22,8% dan ROE 20,5%.

>>> Emiten Ritel Cetak Kinerja Positif di Kuartal I-2026, Dipicu Daya Beli dan Promosi

Strategi JELI Perkuat Profitabilitas

JELI menetapkan harga bookbuilding Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham.

Perusahaan berpotensi meraup dana maksimal Rp 392 miliar dengan menawarkan 350 juta saham atau 25,93% dari modal ditempatkan.

Berdiri sejak 1990, INACO merupakan pionir nata de coco di Indonesia dengan empat fasilitas produksi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, dan Sukabumi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru