Pemerintah Kabupaten Cilacap menjajaki penggunaan batako berbahan limbah batu bara atau fly ash bottom ash (FABA) yang diproduksi oleh narapidana di Pulau Nusakambangan.
Langkah ini diambil sebagai potensi material untuk proyek pembangunan daerah.
>>> Polres Bogor Tolak Restorative Justice Kasus Bocah Tewas Digigit Anjing
Plt Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma, menyatakan ketertarikan tersebut karena material FABA dinilai lebih ekonomis dan memiliki kekuatan yang unggul dibandingkan bata merah serta batako konvensional.
Keunggulan Ekonomi dan Kualitas FABA
Ammy menjelaskan bahwa harga produk FABA mampu bersaing karena memanfaatkan tenaga kerja warga binaan. Program pelatihan keterampilan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Biaya produksi yang lebih rendah ini memungkinkan penjualan FABA dengan harga lebih murah dibandingkan pabrikan batako biasa yang harus membayar upah pekerja.
Ketertarikan ini sejalan dengan penyusunan ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Cilacap yang ditargetkan selesai pada 2027 dan dieksekusi pada 2028.
>>> Tunisia Tersingkir dari Piala Dunia 2026 Usai Dibantai Jepang 0-4
Ammy berharap pada 2028, wilayah perkotaan Cilacap tidak lagi memiliki lahan sawah, melainkan menjadi pusat komersial, industri, dan pemukiman baru.
Perubahan tata ruang ini diprediksi akan meningkatkan permintaan material bangunan secara signifikan, termasuk FABA.
Produksi batako dan paving block FABA di Nusakambangan dilakukan di lahan seluas 11.250 meter persegi dengan dua mesin cetak.
>>> Ipswich Town Resmi Tunjuk Gary O'Neil Sebagai Pelatih Kepala Baru
Sebanyak 20 narapidana dilibatkan dalam produksi harian yang mencapai 2.000 paving block dan 480 batako.
