Gelombang panas yang melanda Eropa minggu ini tercatat sebagai yang terpanas dan terlembap sepanjang sejarah benua tersebut. Fenomena ini diprediksi akan menyebabkan ribuan kematian.
Menurut studi oleh jaringan ilmuwan World Weather Attribution, pemanasan global merupakan penyebab utama di balik gelombang panas ekstrem ini, bukan potensi super El Nino yang sedang terbentuk di Samudra Pasifik.
>>> Generasi Emas Belgia Belum Habis, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Studi tersebut menganalisis tiga hari terpanas yang terjadi antara 22 hingga 29 Juni di Eropa barat dan tengah.
Meskipun pola cuaca 'kubah panas' yang menjebak udara panas bukanlah hal baru, suhu yang dicapai sangatlah ekstrem.
Suhu pada gelombang panas kali ini bisa mencapai lebih dari 44 derajat Celsius di salah satu kota Prancis pada siang hari.
Bahkan, suhu malam hari di beberapa wilayah Spanyol bertahan di atas 30 derajat Celsius.
Dampak Perubahan Iklim yang Semakin Nyata
Theodore Keeping dari Imperial College London menyatakan bahwa peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi pada bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim.
Ia menambahkan, suhu malam hari yang ekstrem selama tiga hari tersebut bahkan tidak akan mungkin terjadi kapan pun sepanjang tahun tanpa dampak perubahan iklim.
Tingkat kelembapan yang menyertai gelombang panas kali ini juga memecahkan rekor, mencapai lebih dari 50% di banyak kota di Inggris.
Kelembapan yang tinggi memperparah risiko kesehatan karena menghambat proses pendinginan tubuh melalui keringat.
>>> Libas Macau, Tim Bulutangkis RI ke Perempatfinal Kejuaraan Asia Junior 2026
Friederike Otto dari Imperial College London menyoroti ketidaksetaraan yang semakin melebar akibat perubahan iklim.
Kelompok rentan seperti lansia, penderita penyakit kronis, migran, dan tunawisma menghadapi risiko tertinggi untuk kehilangan nyawa.