Untuk pertama kalinya, ilmuwan berhasil membangun sel buatan dari awal yang dapat makan, tumbuh, dan bereplikasi layaknya sel alami.
Kate Adamala, ahli biologi sintetis dari University of Minnesota, bersama timnya merakit sel tersebut bagian demi bagian dari komponen kimia tak hidup.
>>> Sulap Apartemen Jadi Sarang Ular Piton, Pria di China Ditangkap
Ciptaan yang dinamai SpudCell ini merupakan prototipe rapuh, namun dapat membantu ilmuwan memahami asal-usul kehidupan dengan lebih baik.
Sel ini bersifat nonspesifik, bukan tumbuhan maupun hewan, namun paling mirip dengan bakteri sederhana.
"Saya tahu daftar lengkap bahan pembentuk sel tersebut, saya tahu persis bahan kimia apa, molekul apa, dan pada konsentrasi berapa.
Sel ini terdefinisi sepenuhnya, yang berarti kita bisa merekayasanya," kata Adamala dikutip dari CNN.
Sel adalah blok pembangun fundamental kehidupan, tapi jauh dari kata sederhana. Tubuh manusia memiliki 37 triliun sel, lebih banyak dari jumlah bintang.
Yuval Elani dari Imperial College London mengatakan, "Membuat sel dari awal berarti tak terikat pada kendala dan beban evolusi biologi alami.
Ini membuka kemungkinan merancang sistem dan memprogramnya agar melakukan hal-hal yang mungkin tidak mudah dilakukan sel hidup."
SpudCell: Sel Sintetis yang Lemah
SpudCell terdiri dari 150 hingga 200 molekul, jauh lebih sederhana dibandingkan sel biologis yang menampung jutaan atau miliaran molekul.
>>> Tanjung Verde Pantang Ciut Nyali Hadapi Argentina
Sel ini makan, tumbuh, dan bereplikasi selama sekitar lima generasi. Setiap generasi butuh makanan dan memakan waktu sekitar 12 jam untuk bereplikasi pada suhu 30 derajat Celcius.
Sebagai perbandingan, E. coli membelah diri setiap 30 menit.
Tom Ellis, profesor rekayasa genom sintetis Imperial College, menyebutnya mungkin terobosan terbesar di bidang sel sintetis.
"Membuat sel sintetis membantu kita memahami persyaratan minimum yang tepat untuk sebuah kehidupan dan bagaimana kehidupan mungkin muncul dari proses kimia," ujarnya.
Meski demikian, SpudCell belum bisa dianggap kehidupan. "Kita tidak sepenuhnya memahami kehidupan.
Saya tidak berpikir ia menciptakan kehidupan," kata Endy, profesor bioteknologi di Stanford University.
Dalam bentuknya saat ini, SpudCell tak menimbulkan risiko keamanan dan tidak dapat digunakan untuk senjata biologis.
Namun, Endy mengingatkan potensi masalah di masa depan jika teknologi ini semakin mudah diakses.
>>> Piala Dunia 2026: Spanyol Hampir Sempurna, Laju ke 16 Besar
SpudCell diharapkan menjadi standar global biologi sel sintetis, bertindak layaknya sistem operasi open source. Akademisi atau organisasi nirlaba dapat menggunakannya gratis, sementara penggunaan komersial dikenakan biaya.