⌂ Beranda News BRIN: Teknologi Olah Sampah Sudah Ada, Ekosistem yang Kurang

BRIN: Teknologi Olah Sampah Sudah Ada, Ekosistem yang Kurang

BRIN: Teknologi Olah Sampah Sudah Ada, Ekosistem yang Kurang
Ilustrasi: BRIN: Teknologi Olah Sampah Sudah Ada, Ekosistem yang Kurang
A A Ukuran Teks16px

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa berbagai teknologi pengolahan sampah sebenarnya sudah tersedia di Indonesia. Mulai dari pengomposan, refuse-derived fuel (RDF), biogas, pirolisis, hingga insinerasi.

Namun, persoalan utama pengelolaan sampah saat ini bukan lagi pada teknologinya.

>>> Conor McGregor Bantah Sudah Habis, Siap Comeback di UFC 329

Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta, yang kurang adalah ekosistem yang mendukung penerapan teknologi tersebut secara berkelanjutan.

"Sebenarnya teknologi pengolahan sampah itu sudah cukup lengkap.

Teknologi pengomposan, RDF, biogas, pirolisis, sampai insinerasi itu sudah ada semua," kata Wahyu dalam diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) di kantor BRIN, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Ia mengakui banyak teknologi yang berhasil di laboratorium atau proyek percontohan justru tidak berjalan optimal saat diterapkan di masyarakat.

"Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi yang sudah terbukti berhasil itu diterapkan di masyarakat, banyak yang gagal," ujarnya.

Riset Perlu Bergeser ke Sistem dan Ekosistem

Menurut Wahyu, arah riset pengelolaan sampah di Indonesia perlu bergeser.

Jika sebelumnya fokus pada pengembangan teknologi baru, kini yang lebih dibutuhkan adalah riset mengenai sistem dan ekosistem yang mendukung penerapan teknologi tersebut.

"Yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini adalah riset mengenai inovasi sistem dan ekosistem persampahan agar teknologi yang sudah ada benar-benar bisa berjalan secara berkelanjutan," katanya.

>>> Piala Dunia 2026 Dikuasai Eropa, 75% Tim Perempatfinal dari UEFA

Ia menjelaskan banyak penelitian selama ini hanya berfokus pada peningkatan efisiensi alat, misalnya menggunakan katalis baru pada pirolisis.

Padahal, tantangan terbesar muncul saat teknologi harus dioperasikan secara nyata oleh pemerintah daerah dan masyarakat.

Wahyu menilai pengelolaan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui pendekatan teknologi. Diperlukan keterlibatan ahli sosial, ekonomi, hingga pembuat kebijakan agar teknologi yang ada dapat diterapkan secara berkelanjutan.

"Yang harus diteliti sekarang bukan semata-mata teknologinya, tetapi bagaimana membangun ekosistem pengelolaan sampah yang mendukung penerapan teknologi itu," ujarnya.

Menurut Wahyu, Indonesia telah memiliki beragam teknologi pengolahan sampah yang terus berkembang, baik dari BRIN maupun pelaku industri.

Di antaranya pengomposan, RDF, biogas, pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar, gasifikasi, hingga insinerator.

"Teknologinya sudah banyak. Sekarang bagaimana teknologi itu bisa benar-benar berjalan dan berkelanjutan di lapangan.

>>> BRIN Ungkap Penyebab Kebakaran TPA Terus Berulang Saat Kemarau

Itu tantangan yang jauh lebih penting," pungkasnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM