Liu Hanqing, yang pernah dikenal sebagai bocah jenius di China, kini menjalani hidup sebatang kara di pedesaan.
Ia hanya mengandalkan subsidi bulanan sebesar 400 yuan atau sekitar Rp 1 jutaan.
>>> Dihantui Cedera, Sabar/Reza Tetap Lolos ke 16 Besar Japan Open 2026
Lahir dari keluarga petani miskin di Taizhou, Liu menunjukkan kecerdasan luar biasa sejak kecil.
Pada usia 11 tahun, ia sudah mampu menghafal teks klasik dan belajar kalkulus secara otodidak.
"Saya selalu menjadi juara pertama di seluruh sekolah saat SD dan SMP," kenang Liu dalam wawancara tahun 2017 dengan Sina News.
Pada usia 16 tahun, Liu diterima di Institut Teknologi Harbin dengan nilai ujian masuk hampir sempurna, yaitu 398,5 dari 400.
Ia mengambil jurusan pemrosesan termal.
Tahun itu, hanya 280.000 dari 3,33 juta peserta ujian yang diterima di universitas. Bagi pelajar pedesaan di awal 1980-an, pencapaian itu sangat luar biasa.
Liu menjadi kebanggaan kampung halamannya. Ayahnya menggelar pesta, dan warga berkumpul mengantarkannya ke universitas dengan perahu sambil menabuh genderang.
"Tidak ada yang menyangka phoenix emas bisa terbang dari desa kecil kita," kata kepala desa saat itu, dikutip dari VN Express.
Obsesi pada Matematika
Sebagai mahasiswa termuda di kelasnya, Liu awalnya meraih hasil akademik yang gemilang. Para dosen pun menaruh harapan besar padanya.
Namun, semuanya berubah pada tahun ketiga ketika ia membaca tentang matematikawan China, Chen Jingrun, yang memecahkan sebagian Konjektur Goldbach.
Liu menjadi terobsesi.
Sejak itu, ia mengabaikan kuliah jurusannya dan bertekad melampaui pencapaian Chen. Ia hanya tidur dua jam sehari dan menghabiskan waktu di perpustakaan.
Universitas mengizinkannya kerja paruh waktu di departemen matematika, tetapi para profesor menemukan kelemahan mendasar dalam logikanya. Metode yang digunakannya tidak memiliki fondasi kuat.
