Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan programmer semakin sering terdengar seiring pesatnya perkembangan AI coding agent seperti Codex.
Namun, menurut Codex Ambassador pertama di Indonesia, Naufaldi Rafif, ancaman terbesar justru bukan AI itu sendiri, melainkan kesenjangan kemampuan atau skill gap antara developer yang sudah memanfaatkan AI dan mereka yang belum.
>>> Asal Mula Gugatan Kuota Internet Hangus Berujung Putusan MK
Naufaldi menilai developer tidak perlu takut kehilangan pekerjaan hanya karena hadirnya AI. Sebaliknya, mereka perlu mulai belajar berkolaborasi dengan teknologi tersebut agar tidak tertinggal dalam persaingan industri.
"Daripada hanya khawatir AI coding agent menggantikan pekerjaan kita, menurut saya lebih baik khawatir dengan skill gap antara developer yang sudah belajar menggunakan AI dan yang belum," ujarnya dalam wawancara tertulis dengan detikINET.
Menurutnya, developer yang mampu memanfaatkan AI memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas.
AI dapat membantu mempercepat proses pengembangan aplikasi, membangun produk sendiri, hingga membuka peluang karier yang lebih luas.
AI Bukan Pengganti Developer
Meski AI semakin pintar menulis kode, Naufaldi menegaskan teknologi tersebut sebaiknya diposisikan sebagai asisten kerja, bukan pengganti manusia.
Ia mengibaratkan AI coding agent sebagai pembantu yang menjalankan berbagai tugas, sementara developer tetap menjadi pihak yang mengarahkan dan mengambil keputusan.
"AI coding agent ini adalah pembantu kita dalam bekerja, sedangkan kita adalah managernya," kata Naufaldi.
Karena itu, developer tetap harus memahami seperti apa kode yang baik, kapan hasil AI layak digunakan, dan kapan perlu diperbaiki.
Naufaldi turut mengingatkan bahwa AI masih memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah potensi menghasilkan informasi yang keliru atau hallucination.
Oleh karena itu, hasil yang diberikan AI tidak boleh langsung diterapkan begitu saja tanpa melalui proses pengujian dan validasi.
