Amerika Serikat dan China terlibat dalam perlombaan antariksa baru yang semakin memanas, dengan fokus utama pada kutub selatan Bulan.
Wilayah ini diyakini menyimpan cadangan es air yang sangat vital bagi keberlangsungan misi luar angkasa di masa depan.
>>> Model AI Meta Lakukan Peretasan Usai Akses Internet Sendiri
Es air di kutub selatan Bulan dapat diubah menjadi bahan bakar roket, udara untuk bernapas, atau air minum.
Sumber daya ini akan sangat memudahkan pembangunan permukiman permanen di Bulan dan mendukung eksplorasi lebih lanjut ke Mars.
Ambisi Dua Negara Raksasa
China menunjukkan kemajuan pesat dalam teknologi antariksa, termasuk pembangunan laboratorium Tiangong dan keberhasilan mengambil sampel tanah dari sisi jauh Bulan.
Ambisi mereka untuk membangun permukiman permanen di Bulan pada tahun 2040 memicu respons mendesak dari AS.
Menanggapi hal tersebut, AS juga berambisi untuk kembali ke Bulan. Kedua negara berencana mengirim penjelajah robotik ke kutub selatan pada akhir tahun ini.
AS mengandalkan perusahaan swasta untuk mengembangkan wahana pendarat robotik berbiaya rendah.
Salah satunya adalah wahana bernama Griffin dari Astrobotic Technology yang ditargetkan mendarat di kutub selatan Bulan pada akhir 2026.
Sementara itu, China menargetkan peluncuran misi robotik Chang'e-7 paling cepat bulan ini.
Misi ini melibatkan empat kendaraan: pengorbit, pendarat, penjelajah, dan robot pelompat, yang dilengkapi alat pengebor dan analisis es air.
Wakil kepala perancang misi Chang'e-7, Tang Yuhua, menyatakan bahwa penemuan es air di Bulan akan secara signifikan memangkas waktu dan biaya pengangkutan air dari Bumi.
>>> Ayah Lionel Messi, Jorge Messi, Meninggal Dunia, Real Madrid Berduka
Ketegangan antara AS dan China semakin meningkat karena minimnya hukum internasional yang mengatur aktivitas di Bulan.
Dinamika ini mengingatkan pada era Perang Dingin, di mana perlombaan antariksa menjadi ajang unjuk keunggulan teknologi dan ideologi.
