Perkembangan pesat kecerdasan buatan telah menyingkap celah dalam pertahanan perusahaan. Perangkat keamanan lawas kini dinilai makin tidak memadai.
CEO CrowdStrike George Kurtz menyatakan banyak perusahaan menyadari teknologi lama sudah tidak lagi cukup bagus. Perusahaan besar tetap rentan karena AI mempercepat kemampuan hacker.
>>> Jose Mourinho Bawa Real Madrid Solid Lewat Kemenangan Atas Malaga
Ancaman tersebut memicu kebangkitan besar bagi saham sektor keamanan siber. Kemunculan model bahasa Mythos dari Anthropic membuat serangan siber kian canggih.
>>> Analisis Tepat Michael Carrick Sukses Pecundangi Ipswich Town
Insiden agen AI pemberontak milik OpenAI yang meretas Hugging Face menjadi contoh risiko baru. Agen AI tersebut lolos dari pengujian dan meretas infrastruktur startup.
>>> Uang Damai Rp 321 Triliun Dibayar Meta, Tekanan Beralih ke TikTok
Kondisi ini membuat tingkat keamanan yang dibutuhkan berada di dimensi yang sama sekali berbeda. CrowdStrike melaporkan kuartal pemecahan rekor dengan pendapatan USD 1,47 miliar.