Kasus interaksi negatif antara beruang dan manusia di Jepang mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025.
Menghadapi situasi ini, pemerintah daerah Jepang mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan drone untuk memantau pergerakan satwa liar.
>>> Harga Minyak Mentah Indonesia Mei 2026 Turun Jadi US$ 106,56
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mencatat 238 orang menjadi korban insiden ini, termasuk 13 orang meninggal dunia.
Antara April hingga 3 Juni 2026, empat warga dilaporkan tewas akibat serangan beruang di timur laut Jepang.
Tren kenaikan konflik satwa ini terlihat jelas di Desa Showa, Prefektur Fukushima.
Wilayah ini biasanya menangkap sekitar 30 beruang per tahun di dekat permukiman, namun pada tahun lalu melonjak hingga 95 ekor.
Untuk menekan risiko, otoritas Desa Showa mengkaji penerapan sistem analisis gambar berbasis AI dari NTT Docomo Business.
Sistem ini menggunakan kamera pengawas untuk mendeteksi satwa yang melintas di perbatasan habitat.
Ketika AI mengonfirmasi objek adalah beruang, notifikasi peringatan dikirimkan kepada pemadam kebakaran, polisi, dan administrasi setempat. Sistem pendeteksian ini diklaim memiliki akurasi 99,9%.
Perwakilan NTT Docomo Business, Sugawara Yoko, menyatakan bahwa kehadiran mamalia besar di area hunian warga telah menjadi krisis lokal yang serius.
>>> Pedro Acosta Soroti Keunggulan Grip Marc Marquez di MotoGP Hongaria
Ia menambahkan bahwa AI ini telah disempurnakan untuk mengenali beruang dengan cepat dan siap digunakan.
Aparatur Desa Showa menilai inovasi digital ini dapat memangkas waktu identifikasi dan meminimalkan patroli konvensional.
Pejabat administrasi desa, Igarashi Kuniaki, menekankan pentingnya pengawasan area pembatas antara ruang hidup manusia dan satwa liar.
Sementara itu, Kota Shintotsukawa di Hokkaido menerapkan strategi berbeda dengan menerbangkan drone melalui kemitraan bersama KDDI SmartDrone.
Drone tanggap darurat dapat mengudara kurang dari 10 menit setelah laporan warga diterima.
Unit drone ini bertugas melacak koordinat beruang secara riil hingga tim pemburu atau petugas tiba di lokasi.
Dilengkapi sensor pemindai panas tubuh atau kamera termal, drone ini mampu mendeteksi keberadaan satwa di balik vegetasi hutan.
CEO KDDI SmartDrone, Hirono Masafumi, menggarisbawahi bahwa pemantauan ruang aktivitas beruang menjadi kebutuhan mendesak bagi pemerintah daerah.
>>> Pramono Anung Tinjau Car Free Day Rasuna Said, Jadi Destinasi Favorit Baru
Ia berharap sistem ini dapat menjaga keberlangsungan infrastruktur penting meskipun jumlah penduduk pedesaan menurun.