Ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memperburuk sentimen pasar bagi aset berisiko global.
Juru Bicara IMF Julie Kozack pada hari Kamis mengatakan bahwa mereka sekarang sedikit menunda kembalinya ke target.
Ketidakpastian ini membuat pejabat bank sentral AS dihadapkan pada pilihan kebijakan yang semakin terbatas.
Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid, pada hari Kamis di sebuah forum ekonomi di Oklahoma, mengatakan bahwa pertanyaan besar sekarang adalah apakah mereka akan tetap sabar.
Ia menambahkan bahwa posisi inflasi AS saat ini sudah berada pada level yang tidak ideal bagi perekonomian domestik.
"Angka inflasi kita mungkin telah merayap naik ke kisaran 3,50%, yang tidak disukai siapa pun," kata Schmid.
Dari pasar saham regional, sektor kecerdasan buatan mengalami tekanan jual yang masif setelah sempat mengalami reli panjang.
Broadcom menjadi pemicu yang mengingatkan pasar betapa tinggi ekspektasi yang telah terbentuk.
Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets, mengatakan bahwa koreksi ini mencerminkan tingginya sensitivitas investor terhadap realisasi kinerja korporasi teknologi.
Ia menambahkan bahwa investor telah memperhitungkan banyak hal yang sempurna seputar AI, sehingga kekecewaan sekecil apa pun dapat menyebabkan koreksi yang cukup tajam.
Di tengah kejatuhan massal mata uang berkembang, Rupee India menjadi pengecualian.
>>> Brasil Kalahkan Mesir 2-1 dalam Laga Uji Coba Terakhir Piala Dunia 2026
Mata uang tersebut menguat 0,9 persen setelah pemerintah dan bank sentral setempat meluncurkan paket stimulus moneter agresif.