Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pelemahan nilai tukar rupiah mulai menekan biaya produksi pelaku usaha kecil.
Hal itu disampaikannya di Gedung DPR/MPR, Jakarta, pada Sabtu (6/6/2026).
>>> Kemensos Buka 8.180 Formasi PPPK Sekolah Rakyat 2026, Ini Syaratnya
Kenaikan biaya produksi terjadi karena sebagian produsen tahu dan tempe masih bergantung pada bahan baku impor.
Pemerintah belum melihat penurunan daya beli masyarakat secara menyeluruh.
"Kan saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor.
Yang jelas itu akan menaikkan cost of production mereka," ujar Purbaya.
Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai penting untuk mengendalikan biaya impor bahan baku pelaku usaha kecil.
Hal itu juga untuk menjaga harga kebutuhan pokok rumah tangga tetap terjaga.
Pemerintah menegaskan fokus kebijakan saat ini bukan hanya mempertahankan indikator ekonomi makro.
Pemerintah juga memastikan manfaat stabilitas tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penurunan Omzet Warteg
Terkait laporan penurunan omzet usaha warung tegal di Jakarta dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah meminta data tersebut tidak langsung dijadikan kesimpulan atas melemahnya daya beli nasional.
Penelusuran lapangan menunjukkan adanya penurunan omzet harian di salah satu warteg kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan sejak setelah Idul Fitri.
Penurunan itu disertai kenaikan harga bahan pangan.
"Kalau sampel Anda berapa warteg?
Saya bisa cari lima warteg yang mungkin jelek, mungkin kalah bersaing, terus pindah ke tempat lain yang lebih bagus.
Itu yang harus kita hati-hati," kata Purbaya.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Konpers APBN KiTa di Kemenkeu Jakarta pada Jumat (5/6/2026).
>>> Kroasia Kalahkan Slovenia, Norwegia Ditahan Maroko di Uji Coba
Indikator agregat pemerintah menunjukkan konsumsi dan belanja masyarakat masih tumbuh kencang.

