⌂ Beranda News Lonjakan Lapangan Kerja AS Tekan Mata Uang Negara Berkembang

Lonjakan Lapangan Kerja AS Tekan Mata Uang Negara Berkembang

Lonjakan Lapangan Kerja AS Tekan Mata Uang Negara Berkembang
Grafik menunjukkan penurunan pasar saham negara berkembang
A A Ukuran Teks16px

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan penambahan 172.000 pekerjaan pada Mei 2026.

Angka ini memicu penurunan mata uang dan saham di pasar negara berkembang menyusul meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

>>> KPK Soroti Praktik Pungli dan Titipan Murid Baru dalam SPMB 2026

Data ketenagakerjaan yang dirilis pada Jumat (5/6/2026) ini melampaui dua kali lipat perkiraan pasar. Tingkat pengangguran AS sendiri bertahan di level 4,3 persen.

Lonjakan lapangan kerja ini memperkuat posisi kubu Hawkish menjelang rapat perdana Ketua The Fed Kevin Warsh pada 16-17 Juni 2026.

Kondisi ekonomi ini memicu koreksi tajam di pasar emerging market, dengan indeks saham gabungannya anjlok hingga 2,4 persen selama tiga hari berturut-turut.

Pelemahan pasar negara berkembang juga diperparah oleh sentimen negatif sektor teknologi AI. Hal ini dipicu proyeksi suram dari Broadcom Inc.

Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menyatakan bahwa situasi ini berada di sekitar definisi lapangan kerja penuh.

Namun, ia menambahkan bahwa inflasi justru menunjukkan kondisi yang terus merayap naik.

"Sebaliknya, inflasi menceritakan kisah yang berbeda. Inflasi tinggi, dan terus meningkat.

Jika tren terkini berlanjut, mungkin akan segera tepat untuk mengambil tindakan," kata Hammack.

Sikap pro-kenaikan suku bunga ini didukung oleh analisis Capital Economics. Mereka melihat kecilnya peluang pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara untuk Capital Economics, menulis bahwa kenaikan berturut-turut ketiga dalam jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian pada bulan Mei yang melampaui konsensus seharusnya mengurangi kekhawatiran FOMC tentang risiko penurunan pasar tenaga kerja.

Hal ini mempersulit The Fed untuk mengabaikan tingkat inflasi inti dan inflasi utama yang tinggi.

Pergeseran pandangan juga terjadi di internal pembuat kebijakan bank sentral AS akibat persistennya tekanan harga komoditas.

>>> Brasil Kalahkan Mesir 2-1 dalam Laga Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026

Anggota Dewan Federal Reserve, Waller, menyatakan bulan lalu bahwa ia tidak bisa lagi mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika inflasi tidak segera mereda.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru