⌂ Beranda News Sains Ungkap Alasan Munculnya Sensasi Kupu-Kupu di Perut Saat Jatuh Cinta

Sains Ungkap Alasan Munculnya Sensasi Kupu-Kupu di Perut Saat Jatuh Cinta

Sains Ungkap Alasan Munculnya Sensasi Kupu-Kupu di Perut Saat Jatuh Cinta
Ilustrasi sensasi kupu-kupu di perut saat jatuh cinta
A A Ukuran Teks16px

Sensasi seperti ada kupu-kupu di perut sering muncul saat seseorang bersiap kencan pertama atau bertatapan dengan orang terkasih.

Gejolak ini sangat familiar di awal hubungan asmara.

>>> 10 Cara Mengatasi Speaker HP Mati dengan Mudah dan Praktis

Penjelasan Fisiologis di Balik Sensasi Kupu-Kupu

Menurut penjelasan fisiologis, sensasi tersebut berkaitan erat dengan respons lawan-atau-lari tubuh.

Proses pertahanan diri ini diaktifkan oleh sistem saraf simpatik saat menghadapi situasi pemicu stres, termasuk antisipasi asmara.

Amigdala, bagian otak yang mengenali ancaman dan memproses emosi, memegang peranan besar.

"Amigdala memberi sinyal kepada tubuh untuk bersiap mengambil tindakan, memicu respons lawan-atau-lari seperti detak jantung lebih cepat dan otot perut menegang," ungkap neurosaintis Christopher U.

Missling, PhD, MS.

"Sementara itu, saraf usus bereaksi terhadap berkurangnya aliran darah dan peningkatan pergerakan, sehingga menghasilkan sensasi kepakan," lanjutnya.

Fenomena ini menjadi contoh nyata cara kerja poros usus dan otak. Para pakar meyakini adanya jalur komunikasi dua arah antara pikiran dan lambung.

Otak mengirimkan sinyal ke usus demi kelancaran pencernaan. Sebaliknya, usus mengirimkan sinyal balasan yang memengaruhi suasana hati atau reaksi tubuh terhadap tekanan.

Keterikatan biologis ini menjelaskan mengapa seseorang tiba-tiba mengalami kram perut sebelum kencan penting.

Hal ini juga menjadi penyebab pasien sindrom iritasi usus besar menyadari gejalanya memburuk saat emosi bergejolak.

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon Tangga Multifungsi hingga Rp 1,8 Juta

"Usus dan otak berkomunikasi secara terus-menerus melalui saraf vagus dan chemical messenger, yang berarti keadaan emosional dapat memengaruhi aktivitas usus secara langsung," papar Missling.

"Sistem dua arah inilah yang menjadi alasan saluran pencernaan bereaksi begitu cepat terhadap perubahan suasana hati atau stres," sambungnya.

Meskipun banyak orang mengaitkan sensasi kupu-kupu dengan asmara, fenomena ini sebenarnya bukan akibat langsung dari emosi romantis tertentu.

Kondisi tersebut merupakan wujud nyata respons fisiologis tubuh terhadap situasi mendebarkan.

"Secara psikologis, sensasi kupu-kupu disebabkan oleh otak yang mengidentifikasi hal-hal penting, tidak diketahui, atau cukup signifikan secara emosional hingga memicu respons tubuh," kata psikolog klinis Carolina Estevez, PsyD.

"Penelitian psikologis menunjukkan, tubuh akan bereaksi dengan cara yang sama terlepas dari apakah ia merasa cemas atas ancaman atau bersemangat tentang sebuah peluang," jelasnya.

Menurut Carolina Estevez, cara seseorang menafsirkan sensasi tersebut pada akhirnya menentukan apakah hal itu terasa sebagai kegembiraan atau kecemasan.

Aktivasi poros usus dan otak yang tidak wajar bisa membuat seseorang rentan mengalami masalah pencernaan atau kecemasan.

Oleh karena itu, mengembangkan strategi pengelolaan stres penting untuk menenangkan saraf saat menghadapi situasi intens.

Kendati demikian, sensasi kupu-kupu ini pada sebagian besar waktu tidak berbahaya. Ketika mengingat momen istimewa dalam hidup, seseorang kemungkinan besar akan mengaitkannya dengan pengalaman romantis dan positif.

>>> Rizky Ridho Catat Penampilan ke-50 Bersama Timnas Indonesia Saat Tekuk Oman

"Sebagian besar waktu, sensasi kupu-kupu berfungsi sebagai indikator positif bahwa kita terlibat, fokus, dan berinvestasi secara emosional pada apa yang kita alami," tutup Estevez.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru