⌂ Beranda News Riset FEB UGM: Workaholic Tak Selalu Buruk, Bisa Tingkatkan Kebahagiaan Kerja

Riset FEB UGM: Workaholic Tak Selalu Buruk, Bisa Tingkatkan Kebahagiaan Kerja

Riset FEB UGM: Workaholic Tak Selalu Buruk, Bisa Tingkatkan Kebahagiaan Kerja
Karyawan tersenyum bekerja di kantor dengan suasana positif
A A Ukuran Teks16px

Bekerja hingga larut malam atau terus memikirkan pekerjaan sering dikaitkan dengan stres dan kelelahan.

Namun, riset terbaru dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menemukan fakta berbeda.

>>> Pemerintah Kejar Penyelesaian Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA

Penelitian yang melibatkan lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan bahwa kecenderungan workaholic tidak selalu berdampak buruk.

Dalam kondisi tertentu, kerja keras justru dapat meningkatkan kebahagiaan kerja.

Peran Penting Pemimpin Inklusif

Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia.

Riset ini dipimpin oleh Guru Besar Departemen Manajemen FEB UGM, Prof Reni Rosari.

Dalam risetnya, Reni menyoroti pentingnya inclusive leadership atau kepemimpinan inklusif.

Menurutnya, pemimpin yang inklusif berfokus pada pencapaian target dan memastikan setiap karyawan merasa dihargai, didengar, serta memiliki ruang untuk berkembang.

"Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut," ujarnya, dilansir dari laman UGM, Minggu (7/6/2026).

Workaholic Tak Selalu Berujung Burnout

Salah satu temuan menarik berkaitan dengan fenomena workaholism.

Berbeda dengan banyak studi sebelumnya yang mengaitkan workaholism dengan stres dan kelelahan, hasil riset UGM menunjukkan kondisi tersebut tidak selalu negatif.

>>> Jadwal Sprint Race MotoGP Hongaria 2026 di Sirkuit Balaton Park

Reni menjelaskan bahwa karyawan dengan kecenderungan workaholic dapat tetap merasakan kebahagiaan kerja ketika mengalami thriving at work.

Thriving at work adalah kondisi saat seseorang merasa produktif sekaligus terus belajar dan bertumbuh dalam pekerjaannya.

"Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan.

Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif," tutur Reni.

Budaya Kerja Berpengaruh

Menurut Reni, budaya kerja di Indonesia, termasuk di banyak BUMN, memiliki karakteristik tersendiri.

Struktur organisasi yang hierarkis serta tuntutan kerja yang tinggi sering membuat kerja keras dipandang sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, bahkan nilai moral.

Karena itu, keberadaan pemimpin yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang adil dan suportif menjadi sangat penting.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa meningkatkan kebahagiaan kerja tidak cukup hanya melalui fasilitas atau insentif.

>>> Andi Gani Dukung Said Iqbal Masuk Kabinet Prabowo sebagai Penasihat Ketenagakerjaan

"Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan," tutupnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru